Syarat memiliki nilai standar kelulusan adalah hal yang wajib dimiliki oleh semua siswa-siswi peserta ujian nasional. Tak heran bila setiap tahunnya nilai standar kelulusan mengalami kenaikan tiap tahunnya dengan alas an menaikkan mutu dan kualitas pelajar di Indonesia. Persaingan di kala mengejar nilai-nilai yang kini menjelma menjadi sesuatu yang wajib dan harus dimiliki itu kian ketat.
Tak sedikit siswa-siswi menambah jam belajar mereka di luar jam sekolah seperti misalnya mengikuti Bimbel atau bimbingan belajar. Banyak pula mereka yang membayar guru private untuk pelajaran-pelajaran yang diujikan di ujian nasional, padahal di setiap sekolah biasanya diadakan jam tambahan lebih untuk pelajaran-pelajaran yang diujikan. Stamina dan energy yang seharusnya diperlukan kian menurun disebabkan padatnya aktivitas tambahan pelajaran ataupun tugas-tugas dari sekolah, jam tidur kian berkurang, pola makan menjadi tidak teratur, dan kebutuhan akan hiburan kian sedikit.
Tekanan-tekanan yang timbul tak hanya dari diri sendiri saja tetapi juga dari lingkungan seperti guru dan orang tua. Mereka yang mengharapkan anak-anak lulus dengan hasil yang memuaskan kerap menjadi suatu beban yang harus dipikul, menjadi terasa berat karena hasil yang diperoleh nanti adalah sebagai bukti keseriusan mereka dalam menuntut ilmu. Sekolah pun mengharapkan siswa-siswa nya dapat lulus 100 persen. Beban inilah yang menjadi rasa cemas yaitu suatu proses emosi yang bercampur aduk menjadi satu yang terjadi saat individu mengalami tekanan perasaan dan pertentangan batin. Kecemasan tersebut kian kali menjadi suatu ketakutan yang luar biasa seperti misalnya takut tidak lulus atau takut mendapat hukuman dari orang tua bila tidak lulus. Rasa cemas yang berlebihan juga seringkali menyebabkan sang anak menjadi stres, mengalami jatuh sakit ketika hari ujian atau tidak mempunyai selera makan. Perasaan emosi yang tidak stabil juga sering terjadi pada mereka. Banyak juga siswa yang mengambil jalan pintas dengan menggunakan joki ataupun membeli kunci-kunci jawaban agar mereka bisa lulus.
Banyaknya masyarakat yang memberikan persepsi bahwa kelulusan adalah bukti seseorang berprestasi atau serius dalam belajar menjadi hal yang pro dan kontra, tak sedikit juga masyarakat yang pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah berpendapat bahwa nilai-nilai kognitif, afektif dan psikomotor anak juga merupakan penilaian yang tak kalah penting.
Peran orangtua dan guru sebagai pembimbing dirasakan membawa dampak yang besar bagi sanag anak. Dukungan dan motivasi yang besar sangat diperlukan bagi mental dan psikis anak.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar