Senin, 29 November 2010
Perkembangan bahasa anak
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti : biologis, kognitif dan emosional.
Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti) sinfaksis (tata bahasa). Dengan bahasa anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaan pada orang lain.
Menurut Owens (dalam papalia et al, 1990), mengemukakan bahwa anak usia dini dapat menggunakan past mapping yaitu suatu proses dimana anak dapat menyerap arti kata baru setelah mendengarkan sekali atau dua kali di dalam percakapan/suatu kalimat yang berbentuk kalimat pertanyaan, negative dan perintah.
Perkembangan berbicara dan menulis merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti. Perkembangan berbicara pada awal dari anak yaitu menggumam maupun membeo, sedangkan perkembangan menulis pada anak berawal dari kegiatan mencoret-coret sebagai hasil ekspresi anak.
Menurut pendapat Dyson bahwa perkembangan berbicara terkadang individu dapat menyesuaikan dengan keinginannya sendiri, hal ini tidak sama dengan menulis. Pada anak dan ingin mengetahui seberapa besar keterlambatan bicara pada anak dan ada gangguan-gangguan yang telah dialami anak tersebut didalam berbicara/berbahasa anak.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Perkembangan Berbicara Pada Anak
Ketika anak tumbuh dan berkembang terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan). Produk bahasanya secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekpresikan mimic wajah dengan cara berkomunikasi.
Alat komunikasi berbicara pada anak menggunakan gerakkan dan tanda isyarat untuk menunjukkan keinginannya secara bertahap dan berkembang menjadi suatu komunikasi melalui ajaran yang tepat dan jelas. Hal ini dapat terlihat sejak awal perkembangan dimana bayi mengeluarkan suara “ocehan” yang kemudian menjadi system symbol bunyi yang bermakna.
Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi system bunyi dalam bahasa bagian terkecil dari system bunyi tersebut dikenal dengan nama fonem yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga 1 tahun. Sedangkan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa. Bagian terkecil dari bahasa tersebut dikenal dengan istilah morfem sebagai contoh anak yang masih kecil mengucapkan kalimat “mam” yang artinya “makan”.
Perkembangan sinteksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai dengan aturan yang menghasilkan suatu pemikiran dan kalimat yang utuh. Pada dua tahun pertama anak tidak melibatkan kata sandang, sifat maupun kata keterangan didalam berkomunikasi. Dengan bertambahnya usia anak seiring dengan perkembangan didalam berbahasa mulai melibatkan komponen ponologi maupun morpologi lebih banyak perbendaharaan/mengucapkan 3-4 kosa kata. Ketika anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang anak yang menggunakan intonasi didalam menanyakan suatu informasi dengan memberikan penekanan pada kalimat seperti “makan ayam”, “kakak sekolah”.
Bocoler and linke (1996) memberikan suatu gambar tentang kemampuan berbahasa anak usia 3-5 tahun. Pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak kosa kata dan tanda Tanya “apa”, “siapa”, sedangkan pada usia 4 tahun anak mulai pandai bercakap-cakap, seperti member nama usia, alamat, dan sudah mulai memahami waktu. Adapun beberapa aturan didalam menggunakan bahasa yang tepat pada waktu/situasi sosial yang berbeda. Seorang anak dapat dikatakan memiliki suatu kompetensi berkomunikasi ketika telah memahami penggunaan bahasa yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Didalam hal ini anak perlu/membutuhkan suatu bimbingan dari orang yang telah dewasa untuk membimbing anak dalam menggunakan kalimat/kosa kata yang paling tepat didalam menyampaikan suatu kata, berbicara bukanlah sekedar pengucapan kata/bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyampaikan dan menyatakan kata atau mengkomunikasi pikiran, ide-ide maupun suatu perasaan yang sedang dialami anak, contohnya sedih dan senang.
Disini akan membahas dua tipe perkembangan anak didalam berbicara, yaitu :
1. Egosentrie Speech
Terjadi pada anak berusia 2-3 tahun, dimana anak berbicara pada dirinya sendiri (monolog- mengoceh sendiri) pada saat main boneka.
2. Socialized Speech
Terjadi ketika anak sedang berinteraksi pada temannya dan didalam lingkungan. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi sosial anak. Berkenaan dengan hal tersebut terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu :
1) Saling tukar informasi untuk tujuan bersama
2) Penilaian terhadap ucapan/tingkah laku orang lain
3) Perintah, permintaan, ancaman
4) Pertanyaan
5) Jawaban
B. Tujuan Berbicara
Adapun tujuan dari berbicara yaitu untuk memberitahu, menghibur, melapor, membujuk, dan menyakinkan seseorang, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan dalam aspek kebahasan, yaitu :
1. Ketepatan ucapan (pelafalan)
2. Penekanan/penempatan nada dan durasi yang sesuai
3. Pemilihan kata
4. Ketepatan sasaran pembicaraan (tata krama)
Sedangkan faktor aspek non kebahasaan yaitu :
1. Sikap tubuh, pendangan, bahasa tubuh, mimic wajah yang tepat
2. Kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain.
3. Kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara
4. Relevansi, penalaran, dan penguasaan terhadap topic.
Hurlock mengemukakan 3 kriteria untuk mengukur kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar/sekedar membeo sebagai berikut :
1. Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkan dengan objek yang diwakili.
2. Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah.
3. Anak dapat memahami kata-kata tersebut, bukan karena telah sering mendengar/menduga-menduga.
Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa orang tua yang dilakukan dengan 2 cara yaitu secara spontan dan melalui penugasan dari orang dewasa untuk menirukan secara spontan bahasa orang dewasa dan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas.
Adapun beberapa cara orang dewasa mengajarkan bahasa bayi sebagai berikut :
1. Motherese, recasting (menyusun ulang).
2. Echoing (menggemakan)
3. Expanding (memperluaskan)
4. Labeling (memberi nama).
Motherese yaitu berbicara pada bayi dengan suatu frekuensi danØ hubungan yang lebih luas dan menggunakan kalimat yang sederhana.
Recasting yaitu suatu pengucapan makna/kalimat yang sama denganØ menggunakan cara yang berbeda contohnya : dengan mengubah suatu pertanyaan.
Echoing adalah mengulangi apa yang telah dikatakan anak, khususnya ungkapan/ucapan (bahasa) anak yang belum sempurna.
Expanding adalah menyatakan ulang apa telah dikatakan anak dalam bahasa yang baik untuk suatu kosa kata (ucapan).
Labeling adalah mengidentifkasi nama-nama benda.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu :
1. Tahap eksternal
Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris
Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3. Tahap Internal
Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, contohnya melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama jenis kelamin dan umurnya, menggunakan kata sambung seperti : dan, karena, tetapi.
Ada beberapa hal/cara belajar berbicara yang dapat dilakukan anak sebagai berikut :
1. Persiapan fisik untuk berbicara pada anak
Yaitu kemampuan berbicara tergantung pada mekanisme bicara anak tersebut. Pada saat lahir anak tersebut telah memiliki saluran kecil, langit-langit, mulut datar, dan lidah terlalu besar untuk saluran suara sebelum semua sarana itu mencapai bentuk yang lebih matang.
2. Kesiapan mental untuk berbicara pada anak
Yaitu kesiapan mental untuk berbicara tergantung pada kematangan otak, khususnya pada bagian-bagian asosiasi otak pada anak. Biasanya kesiapan tersebut berkembang pada saat anak berusia 12 dan 18 bulan dipandang dari segi aspek perkembangan bicara anak.
3. Model yang baik untuk ditiru oleh anak didalam proses bicara
Yaitu mengucapkan kata dengan betul dan kemudian menggabungkannya menjadi satu kalimat yang betul maka anak harus memiliki model bicara contohnya pada orang dewasa untuk ditiru dari percakapan/pelafasan yang benar/baik.
4. Kesempatan untuk berpraktek
Karena alas an apapun kesempatan berbicara dihilangkan jika mereka tidak dapat membuat orang lain mengerti dan mereka akan putus asa dan marah.
5. Bimbingan
Cara yang paling baik untuk membimbing belajar berbicara yaitu :
1) Menyediakan model yang baik
2) Mengatakan kata-kata dengan perlahan dan cukup jelas sehingga anak dapat memahaminya
3) Memberikan bantuan mengikuti model tersebut dengan membetulkan setiap kesalahan yang mungkin dibuat anak dalam meniru model tersebut.
C. Keterlambatan dan bahaya (gangguan) di dalam perkembangan bicara pada anak.
Apabila tingkat perkembangan bicara berada dibawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umumnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan di dalam kosa kata (bahasa) anak tersebut pada saat bersama teman sebayanya bercakap-cakap/berbicara menggunakan kata-kata terus dianggap muda diajak bermain dengan kata-kata.
Keterlambatan berbicara tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca pada awal anak masuk sekolah. Banyak penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya adalah rendahnya tingkat kecerdasan yang membuat anak tidak mungkin belajar berbicara sama baiknya seperti teman-teman sebayanya, yang kecerdasannya normal atau tinggi kurang motivasi karena anak mengetahui bahwa mereka dapat berkomunikasi secara memadai dengan bentuk prabicara dorongan orang tua/orang dewasa, terbatasnya kesempatan praktek berbicara karena ketatnya batasan tentang seberapa banyak mereka diperbolehkan berbicara dirumah.
Salah satu penyebab tidak diragukan lagi paling umum dan paling serius adalah ketidakmampuan mendorong/memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi) didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa kata yang baik dan benar.
Kekurangan dorongan tersebut merupakan penyebab serius keterlambatan berbicara anak terlihat dari fakta bahwa apabila orang tua tidak hanya berbicara kepada anak mereka tetapi juga menggunakan kosa kata yang lebih luas dan bervariasi, adapun kemampuan anak didalam berbicara yang berkembang sangat pesat dan cepat yaitu contohnya : anak-anak dari golongan yang lebih atau menengah yang orang tuanya ingin sekali menyuruh mereka (anak) belajar berbicara lebih awal (cepat) dan lebih baik. Sangat kurang kemungkinannya mengalami keterlambatan berbicara pada anak.
Sedangkan anak yang berasal dari golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak yaitu :
1. Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata
2. Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara
3. Sering kali berbicara yang tidak teratur
4. Tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.
D. Kesalahan yang umum didalam pengucapan/bahasa (berbicara) pada anak yaitu :
1. Menghilangkan satu suku kata/lebih biasanya terletak ditengah-tengah kata contohnya : “buttfly” padahal “butterfly”.
2. Mengganti huruf/suku kata seperti “tolly” padahal “Dolly”, “handakerchief” padahal “handkerchief”.
3. Menghilangkan huruf mati yang sulit untuk diucapkan oleh anak contohnya : z,w,s,d, dan g.
4. Huruf-huruf hidup khususnya O yang paling sulit dikatakan anak (diucapkan)
5. Singkatan gabungan huruf mati yang sulit diucapkan oleh anak contohnya : “st, sk, dr, fl, str”.
E. Bicara yang tidak disetujui anak secara sosial
Anak-anak yang pembicarannya tidak sesuai dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atau jelek. Pengaruhnya terhadap penyesuaian sosial dan pribadi mungkin merusak, lebih lanjut, jika percakapan dilakukan dengan cara yang tidak diterima secara sosial menjadi kebiasaan, maka hal itu akan terjadi hambatan-hambatan yang serius yang semakin berat setiap tahun. Adapun survey mengenai sebagian dari jangkauan pengaruh yang jauh dari bicara anak yang tidak diterima secara sosial menyoroti arti pentingnya sebagai berikut yaitu :
1. Anak yang berbicara paling banyak mengenai dirinya sendiri berarti lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Dengan demikian bicara egosentrik bukanlah pola perilaku yang terpisah melainkan, hal itu merupakan sindrom egosentrisme, sebaiknya hanya karena anak berbicara mengenai orang dan hal-hal lain tidak lantas berarti bahwa mereka akan membicarakan dengan caranya sendiri dan dapat menimbulkan penyesuaian sosial yang baik, contohnya : anak suka membual “bohong”.
Bualan juga mempengaruhi penyesuaian pribadi anak, pada waktu kemampuan penalaran mereka meningkat, anak tersebut menyadari adanya jurang pemisah antara apa yang mereka katakana tentang dirinya sendiri dan siapa mereka sesungguhnya. Untuk memperkecil ketidakpuasan diri dan perasaan anak tersebut mencari penyebab/kesalahan-kesalahan.
2. Kritik dalam bentuk suatu komentar yang merendahkan dan meninggikan ego anak tersebut, tetapi hal tersebut berarti merendahkan ego yang dikritik, menyinggung perasaan orang dan memutuskan persahabatan. Dalam keluarga kritik yaitu salah satu penyebab memburuknya hubungan keluarga pada waktu anak bertambah besar. Orang tua dan saudara yang lebih tua memandang kritik (komentar) kurang diterima oleh orang tua malah dianggap kurang ajar dan yang terjadi malahan pertengkaran yang membuat hubungan antara ortu dengan anak memburuk.
3. Sikap yang terlalu sinis/suka berkelahi merugikan bagi anak maupun bagi mereka yang dituju oleh sikap seperti itu anak tidak hanya menciptakan kebiasaan bicara yang akan menimbulkan penolakan sosial yang disertai dh kerusakan psikologis, tetapi juga menimbulkan konsep keangkuhan yang menyimpang pada/tentang suatu yang tidak baik dilakukan terhadap orang lain, anak yang merasa terpukul karena komentar tersebut bertanya-tanya apakah mereka mengganggu/tidak mampu orang tersebut.
4. Anak dapat terpukul secara permanen oleh kritik yang dilontarkan anak berulang-ulang kali, sebagai contoh “kompleks rasa rendah hati/diri anak” sebagian besar disebabkan oleh kritik dan komentar yang dilontarkan terhadap anak.
Anak baik laki-laki maupun perempuan dan teman sekelasnya, semakin penting orang yang mengkritik anak, semakin besar pengaruh kritiknya.
Ada beberapa anak bicaranya tidak sebanyak yang diinginkan karena selalu dicuekkan (cemooh) oleh teman-teman dan orang dewasa yang berhubungan dengan ucapan-ucapan yang lucu, karena anak tersebut berbicara dengan menggunakan 2 bahasa/karena isi pembicarannya bersifat tidak sosial. Sehingga cuekkan, kalaupun anak yang lain menemukkan bahwa ia mencoba menguasai pembicaraan maka hal ini akan menyebabkan suatu penolakan yang sosial, sehingga anak mengekang keinginannya untuk berbicara.
F. Faktor-faktor yang mempengaruhi anak berbicara
Awal masa kanak-kanak terkena sebagai masa tukang ngobrol, karena sering kali anak dapat berbicara dengan mudah tidak terputus-putus bicaranya. Adapun faktor-faktor yang terpenting didalam anak banyak bicara yaitu :
1. Inteligensi
Yaitu semakin cerdas (pintar) anak, semakin cepat anak menguasai keterampilan berbicara.
2. Jenis disiplin
Yaitu anak-anak yang cenderung dibesarkan dengan cara disiplin lebih banyak bicaranya ketimbang pada suatu kekerasan.
3. Posisi urutan
Yaitu anak sulung cenderung/didorong ortu untuk banyak berbicara daripada adiknya.
4. Besarnya keluarga
5. Status sosial ekonomi
6. Status ras
7. Berbahasa dua
8. Penggolongan peran seks
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Perkembangan bicara anak tergantung pada tumbuh kembang ucapan (pelafasan) bicara anak tersebut. Didalam pembelajaran bicara pada anak usia dini orang tua sangat berperan penting, karena tanpa bantuan dari orang tua/dewasa anak tidak akan bisa berbicara/celoteh (ocehan).
Adapun maksud dari tujuan perkembangan bicara anak untuk melatih/mengucapkan kata-kata/kosa kata, contohnya “mam” maksud disini anak tersebut bilang “makan”. Karena adanya dampak keterlambatan bicara/gangguan bicara anak terpengaruh dari lingkungan tempat tinggal anak tersebut dan kurangnya pola asuh dari orang tua untuk mempelajari/mengajari anak untuk berbicara, jadinya anak lamban untuk berbicara (ngeloceh/celoteh) dan terpengaruh dari sosial yang anak tidak sukai oleh anak.
III.2 Saran
Bagi seorang guru/orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak usia dini didalam berbicara dengan baik, karena berbicara yang baik untuk diajari kepada anak sangatlah susah didalam menyebutkan kosa kata/pengucapan dengan sempurna kepada anak didalam perkembangan bicara.
DAFTAR PUSTAKA
Perkembangan Anak, Elizabet B. Hurlock
Perkembangan Anak, Internet
Psikologi Perkembangan, Elizabet B. Hurlock
PENDAHULUAN
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti : biologis, kognitif dan emosional.
Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti) sinfaksis (tata bahasa). Dengan bahasa anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaan pada orang lain.
Perkembangan berbicara dan menulis merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti. Perkembangan berbicara pada awal dari anak yaitu menggumam maupun membeo, sedangkan perkembangan menulis pada anak berawal dari kegiatan mencoret-coret sebagai hasil ekspresi anak.
Menurut pendapat Dyson bahwa perkembangan berbicara terkadang individu dapat menyesuaikan dengan keinginannya sendiri, hal ini tidak sama dengan menulis. Pada anak dan ingin mengetahui seberapa besar keterlambatan bicara pada anak dan ada gangguan-gangguan yang telah dialami anak tersebut didalam berbicara/berbahasa anak.
BAB II
PEMBAHASAN
Ketika anak tumbuh dan berkembang terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan). Produk bahasanya secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekpresikan mimic wajah dengan cara berkomunikasi.
Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi system bunyi dalam bahasa bagian terkecil dari system bunyi tersebut dikenal dengan nama fonem yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga 1 tahun. Sedangkan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa. Bagian terkecil dari bahasa tersebut dikenal dengan istilah morfem sebagai contoh anak yang masih kecil mengucapkan kalimat “mam” yang artinya “makan”.
Perkembangan sinteksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai dengan aturan yang menghasilkan suatu pemikiran dan kalimat yang utuh. Pada dua tahun pertama anak tidak melibatkan kata sandang, sifat maupun kata keterangan didalam berkomunikasi. Dengan bertambahnya usia anak seiring dengan perkembangan didalam berbahasa mulai melibatkan komponen ponologi maupun morpologi lebih banyak perbendaharaan/mengucapkan 3-4 kosa kata. Ketika anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang anak yang menggunakan intonasi didalam menanyakan suatu informasi dengan memberikan penekanan pada kalimat seperti “makan ayam”, “kakak sekolah”.
Bocoler and linke (1996) memberikan suatu gambar tentang kemampuan berbahasa anak usia 3-5 tahun. Pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak kosa kata dan tanda Tanya “apa”, “siapa”, sedangkan pada usia 4 tahun anak mulai pandai bercakap-cakap, seperti member nama usia, alamat, dan sudah mulai memahami waktu. Adapun beberapa aturan didalam menggunakan bahasa yang tepat pada waktu/situasi sosial yang berbeda. Seorang anak dapat dikatakan memiliki suatu kompetensi berkomunikasi ketika telah memahami penggunaan bahasa yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Didalam hal ini anak perlu/membutuhkan suatu bimbingan dari orang yang telah dewasa untuk membimbing anak dalam menggunakan kalimat/kosa kata yang paling tepat didalam menyampaikan suatu kata, berbicara bukanlah sekedar pengucapan kata/bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyampaikan dan menyatakan kata atau mengkomunikasi pikiran, ide-ide maupun suatu perasaan yang sedang dialami anak, contohnya sedih dan senang.
Disini akan membahas dua tipe perkembangan anak didalam berbicara, yaitu :
1. Egosentrie Speech
Terjadi pada anak berusia 2-3 tahun, dimana anak berbicara pada dirinya sendiri (monolog- mengoceh sendiri) pada saat main boneka.
2. Socialized Speech
Terjadi ketika anak sedang berinteraksi pada temannya dan didalam lingkungan. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi sosial anak. Berkenaan dengan hal tersebut terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu :
1) Saling tukar informasi untuk tujuan bersama
2) Penilaian terhadap ucapan/tingkah laku orang lain
3) Perintah, permintaan, ancaman
4) Pertanyaan
5) Jawaban
B. Tujuan Berbicara
Adapun tujuan dari berbicara yaitu untuk memberitahu, menghibur, melapor, membujuk, dan menyakinkan seseorang, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan dalam aspek kebahasan, yaitu :
1. Ketepatan ucapan (pelafalan)
2. Penekanan/penempatan nada dan durasi yang sesuai
3. Pemilihan kata
4. Ketepatan sasaran pembicaraan (tata krama)
1. Sikap tubuh, pendangan, bahasa tubuh, mimic wajah yang tepat
2. Kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain.
3. Kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara
4. Relevansi, penalaran, dan penguasaan terhadap topic.
Hurlock mengemukakan 3 kriteria untuk mengukur kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar/sekedar membeo sebagai berikut :
1. Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkan dengan objek yang diwakili.
2. Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah.
3. Anak dapat memahami kata-kata tersebut, bukan karena telah sering mendengar/menduga-menduga.
Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa orang tua yang dilakukan dengan 2 cara yaitu secara spontan dan melalui penugasan dari orang dewasa untuk menirukan secara spontan bahasa orang dewasa dan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas.
1. Motherese, recasting (menyusun ulang).
2. Echoing (menggemakan)
3. Expanding (memperluaskan)
4. Labeling (memberi nama).
Motherese yaitu berbicara pada bayi dengan suatu frekuensi danØ hubungan yang lebih luas dan menggunakan kalimat yang sederhana.
Recasting yaitu suatu pengucapan makna/kalimat yang sama denganØ menggunakan cara yang berbeda contohnya : dengan mengubah suatu pertanyaan.
Echoing adalah mengulangi apa yang telah dikatakan anak, khususnya ungkapan/ucapan (bahasa) anak yang belum sempurna.
Expanding adalah menyatakan ulang apa telah dikatakan anak dalam bahasa yang baik untuk suatu kosa kata (ucapan).
Labeling adalah mengidentifkasi nama-nama benda.
1. Tahap eksternal
Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris
Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3. Tahap Internal
Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
Ada beberapa hal/cara belajar berbicara yang dapat dilakukan anak sebagai berikut :
1. Persiapan fisik untuk berbicara pada anak
Yaitu kemampuan berbicara tergantung pada mekanisme bicara anak tersebut. Pada saat lahir anak tersebut telah memiliki saluran kecil, langit-langit, mulut datar, dan lidah terlalu besar untuk saluran suara sebelum semua sarana itu mencapai bentuk yang lebih matang.
2. Kesiapan mental untuk berbicara pada anak
Yaitu kesiapan mental untuk berbicara tergantung pada kematangan otak, khususnya pada bagian-bagian asosiasi otak pada anak. Biasanya kesiapan tersebut berkembang pada saat anak berusia 12 dan 18 bulan dipandang dari segi aspek perkembangan bicara anak.
3. Model yang baik untuk ditiru oleh anak didalam proses bicara
Yaitu mengucapkan kata dengan betul dan kemudian menggabungkannya menjadi satu kalimat yang betul maka anak harus memiliki model bicara contohnya pada orang dewasa untuk ditiru dari percakapan/pelafasan yang benar/baik.
4. Kesempatan untuk berpraktek
Karena alas an apapun kesempatan berbicara dihilangkan jika mereka tidak dapat membuat orang lain mengerti dan mereka akan putus asa dan marah.
5. Bimbingan
1) Menyediakan model yang baik
2) Mengatakan kata-kata dengan perlahan dan cukup jelas sehingga anak dapat memahaminya
3) Memberikan bantuan mengikuti model tersebut dengan membetulkan setiap kesalahan yang mungkin dibuat anak dalam meniru model tersebut.
Apabila tingkat perkembangan bicara berada dibawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umumnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan di dalam kosa kata (bahasa) anak tersebut pada saat bersama teman sebayanya bercakap-cakap/berbicara menggunakan kata-kata terus dianggap muda diajak bermain dengan kata-kata.
Keterlambatan berbicara tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca pada awal anak masuk sekolah. Banyak penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya adalah rendahnya tingkat kecerdasan yang membuat anak tidak mungkin belajar berbicara sama baiknya seperti teman-teman sebayanya, yang kecerdasannya normal atau tinggi kurang motivasi karena anak mengetahui bahwa mereka dapat berkomunikasi secara memadai dengan bentuk prabicara dorongan orang tua/orang dewasa, terbatasnya kesempatan praktek berbicara karena ketatnya batasan tentang seberapa banyak mereka diperbolehkan berbicara dirumah.
Salah satu penyebab tidak diragukan lagi paling umum dan paling serius adalah ketidakmampuan mendorong/memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi) didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa kata yang baik dan benar.
Sedangkan anak yang berasal dari golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak yaitu :
1. Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata
2. Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara
3. Sering kali berbicara yang tidak teratur
4. Tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.
D. Kesalahan yang umum didalam pengucapan/bahasa (berbicara) pada anak yaitu :
1. Menghilangkan satu suku kata/lebih biasanya terletak ditengah-tengah kata contohnya : “buttfly” padahal “butterfly”.
2. Mengganti huruf/suku kata seperti “tolly” padahal “Dolly”, “handakerchief” padahal “handkerchief”.
3. Menghilangkan huruf mati yang sulit untuk diucapkan oleh anak contohnya : z,w,s,d, dan g.
4. Huruf-huruf hidup khususnya O yang paling sulit dikatakan anak (diucapkan)
5. Singkatan gabungan huruf mati yang sulit diucapkan oleh anak contohnya : “st, sk, dr, fl, str”.
Anak-anak yang pembicarannya tidak sesuai dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atau jelek. Pengaruhnya terhadap penyesuaian sosial dan pribadi mungkin merusak, lebih lanjut, jika percakapan dilakukan dengan cara yang tidak diterima secara sosial menjadi kebiasaan, maka hal itu akan terjadi hambatan-hambatan yang serius yang semakin berat setiap tahun. Adapun survey mengenai sebagian dari jangkauan pengaruh yang jauh dari bicara anak yang tidak diterima secara sosial menyoroti arti pentingnya sebagai berikut yaitu :
1. Anak yang berbicara paling banyak mengenai dirinya sendiri berarti lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Dengan demikian bicara egosentrik bukanlah pola perilaku yang terpisah melainkan, hal itu merupakan sindrom egosentrisme, sebaiknya hanya karena anak berbicara mengenai orang dan hal-hal lain tidak lantas berarti bahwa mereka akan membicarakan dengan caranya sendiri dan dapat menimbulkan penyesuaian sosial yang baik, contohnya : anak suka membual “bohong”.
Bualan juga mempengaruhi penyesuaian pribadi anak, pada waktu kemampuan penalaran mereka meningkat, anak tersebut menyadari adanya jurang pemisah antara apa yang mereka katakana tentang dirinya sendiri dan siapa mereka sesungguhnya. Untuk memperkecil ketidakpuasan diri dan perasaan anak tersebut mencari penyebab/kesalahan-kesalahan.
2. Kritik dalam bentuk suatu komentar yang merendahkan dan meninggikan ego anak tersebut, tetapi hal tersebut berarti merendahkan ego yang dikritik, menyinggung perasaan orang dan memutuskan persahabatan. Dalam keluarga kritik yaitu salah satu penyebab memburuknya hubungan keluarga pada waktu anak bertambah besar. Orang tua dan saudara yang lebih tua memandang kritik (komentar) kurang diterima oleh orang tua malah dianggap kurang ajar dan yang terjadi malahan pertengkaran yang membuat hubungan antara ortu dengan anak memburuk.
3. Sikap yang terlalu sinis/suka berkelahi merugikan bagi anak maupun bagi mereka yang dituju oleh sikap seperti itu anak tidak hanya menciptakan kebiasaan bicara yang akan menimbulkan penolakan sosial yang disertai dh kerusakan psikologis, tetapi juga menimbulkan konsep keangkuhan yang menyimpang pada/tentang suatu yang tidak baik dilakukan terhadap orang lain, anak yang merasa terpukul karena komentar tersebut bertanya-tanya apakah mereka mengganggu/tidak mampu orang tersebut.
4. Anak dapat terpukul secara permanen oleh kritik yang dilontarkan anak berulang-ulang kali, sebagai contoh “kompleks rasa rendah hati/diri anak” sebagian besar disebabkan oleh kritik dan komentar yang dilontarkan terhadap anak.
Anak baik laki-laki maupun perempuan dan teman sekelasnya, semakin penting orang yang mengkritik anak, semakin besar pengaruh kritiknya.
F. Faktor-faktor yang mempengaruhi anak berbicara
Awal masa kanak-kanak terkena sebagai masa tukang ngobrol, karena sering kali anak dapat berbicara dengan mudah tidak terputus-putus bicaranya. Adapun faktor-faktor yang terpenting didalam anak banyak bicara yaitu :
Yaitu semakin cerdas (pintar) anak, semakin cepat anak menguasai keterampilan berbicara.
2. Jenis disiplin
Yaitu anak-anak yang cenderung dibesarkan dengan cara disiplin lebih banyak bicaranya ketimbang pada suatu kekerasan.
3. Posisi urutan
Yaitu anak sulung cenderung/didorong ortu untuk banyak berbicara daripada adiknya.
4. Besarnya keluarga
5. Status sosial ekonomi
6. Status ras
7. Berbahasa dua
8. Penggolongan peran seks
PENUTUP
Perkembangan bicara anak tergantung pada tumbuh kembang ucapan (pelafasan) bicara anak tersebut. Didalam pembelajaran bicara pada anak usia dini orang tua sangat berperan penting, karena tanpa bantuan dari orang tua/dewasa anak tidak akan bisa berbicara/celoteh (ocehan).
Adapun maksud dari tujuan perkembangan bicara anak untuk melatih/mengucapkan kata-kata/kosa kata, contohnya “mam” maksud disini anak tersebut bilang “makan”. Karena adanya dampak keterlambatan bicara/gangguan bicara anak terpengaruh dari lingkungan tempat tinggal anak tersebut dan kurangnya pola asuh dari orang tua untuk mempelajari/mengajari anak untuk berbicara, jadinya anak lamban untuk berbicara (ngeloceh/celoteh) dan terpengaruh dari sosial yang anak tidak sukai oleh anak.
Bagi seorang guru/orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak usia dini didalam berbicara dengan baik, karena berbicara yang baik untuk diajari kepada anak sangatlah susah didalam menyebutkan kosa kata/pengucapan dengan sempurna kepada anak didalam perkembangan bicara.
Perkembangan Anak, Internet
Psikologi Perkembangan, Elizabet B. Hurlock
Selasa, 23 November 2010
makalah perkembangan masa anak-anak
I.1 Latar Belakang
Perkembangan berbeda dengan pertumbuhan tetapi saling terkait dalam
proses perkembangan. Pertumbuhan merupakan proses kuantitatif yang menunjukkan perubahan yang dapat diamati secara fisik. Pertumbuhan dapat diamati melalui penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan lingkar kepala anak. Misalnya seorang anak kecil menjadi tinggi dan besar. Sedangkan perkembangan merupakan proses kualitatif yang menunjukkan bertambahnya kemampuan (ketrampilan) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang beraturan dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Perkembangan berkaitan dengan aspek kemampuan motor, intelektual, sosial, emosional, dan bahasa. Misalnya anak menjadi lebih cerdas atau lebih fasih berbicara.
Perkembangan kejiwaan pada masa anak-anak, terkadang disebut dengan masa anak kecil atau atau juga masa menjelang sekolah, sebab masa ini saat-saat anak senang mempersiapkan diri untuk bersekolah. Demikian pula masa ini ada yang menyebut dengan masa estetis, dikarenakan anak mulai mengenal dunia sekitarnyaterasa serba indah.
I.2 Maksud dan Tujuan
Di dalam penulisan makalah ini ada beberapa tujuan yang kami jabarkan, diantaranya adalah :
1. Sebagai syarat untuk memenuhi tugas Psikologi dan Tekhnologi Internet
2. Dari hasil di atas, kita jadi lebih memahami mengenai perkembangan masa anak-anak pra sekolah
3. Untuk membantu mahasiswa lainnya lebih memahami mengenai perkembangan masa anak-anak pra sekolah
I.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data, kami menggunakan metode pengumpulan data secara sekunder, yaitu pengambilan data secara tidak langsung melalui informasi yang sudah ada seperti internet.
1. Apa sajakah ciri-ciri masa awal anak-anak
2. Perkembangan kognitif masa anak-anak
3. Perkembangan fisik masa anak-anak
III.1 Ciri-Ciri Masa Awal anak-anak
Dalam setiap tahap perkembangan ada ciri-ciri khusus yang ada pada setiap tahap perkembangan, begitu juga pada saat masa kanak-kanak awal ditandai dengan ciri-ciri tertentu, menurut Hurlock (1980:108) ciri itu tercermin dalam sebutan yang biasa diberikan oleh para orang tua, pendidik, dan ahli psikologi:
a) Sebutan Yang Digunakan Orang Tua. Ada beberapa sebutan untuk menggambarkan masa kanak-kanan, sebutan tersbeut berkisar tentang perilaku dan aktivitas yang dilakukan anak-anak, pada sebagian besar orang tua menganggap awal masa pada kanak-kanak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit. Masa kanak-kanak merupakan masa-masa yang sulit bagi orang tua karena pada masa kanak-kanak awal ialah karena anak-anak sedang mengembangkan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umumnya kurang berhasil. Selain itu pada sebagian orang tua juga menganggap usia awal kanak-kanak sebagai usia mainan karena anak mudah menghabiskan sebagian besar waktu juga bermain dengan mainannya.
b) Sebutan Yang digunakan Para Pendidik. Sedangkan para pendidik menyebut usia awal kanak-kanak sebagai usia prasekolah, usia pra sekolah adalah usia yang belum memasuki usia sekolah atau masih berada di taman kanak-kanak, kelompok bermain, atau penitipan anak-anak.
c) Sebutan Yang Digunakan Ahli Psikologi. Para ahli psikologi menggunakan sejumlah sebutan yang berbeda untuk menguraikan ciri-ciri yang menonjol dari perkembangan psikologis anak selama tahun awal masa kanak-kanak.
Salah satu sebutan yang banyak digunakan adalah usia kelompok, masa di mana anak-anak mempelajari dasar-dasar prilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu. Karena perkembangan utama yang terjadi selama awal masa kanak-kanak berkisar diseputar penguasaan dan pengendalian lingkungan, banyak ahli psikologi yang melabelkan awal masa kanak-kanak sebagai usia menjelajah, sebuah label yang menunjukkan anak ingin mngetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya, ini termasuk manusia dan benda mati. Salah satu cara yang umum dalam menjelajah lingkungan adalah dengan bertanya, jadi periode ini adalah meniru pembicaraan dan perilaku orang lain, oleh karena itu periode ini juga disebut usia meniru. Namun kecenderungan ini nampak kuat tetapi anak lebih menunjukkan kreativitas dalam bermain selama masa kanak-kanak dibandingkan masa-masa lain dalam kehidupannya, dengan alasan ini para ahli psikologi juga menamakan periode ini sebagai usia kreatif.
Menurut Yusuf (2002) pada masa usia prasekolah ini dapat diperinci menjadi dua masa, yaitu masa vital dan masa estetik; a) Masa Vital. Pada masa ini, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar, Freud menamakan tahun pertama dalam kehidupan individu itu sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan anak memasukkan apa saja yang dijumpai ke dalam mulutnya itu, tidaklah karena mulut sumber kenikmatan utama, tetapi karena waktu itu mulut merupakan alat untuk melakukan eksplorasi (penelitian) dan belajar. b) Masa Estetik. Pada masa ini dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Kata estetik di sini dalam arti bahwa pada masa ini, perkembangan anak yang terutama adalah fungsi panca inderanya. Kegiatan eksploitasi dan belajar anak terutama menggunakan panca inderanya, pada masa ini, indera masih peka, karena itu Montessori menciptakan bermacam-macam alat permainan untuk melatih panca inderanya.
III.2 Perkembangan Kognitif masa anak-anak
Dunia kognitif masa anak anak prasekolah adalah kreatif, bebas, dan penuh imajinasi. Di dalam seni mereka, matahari kadang kadang berwarna hijau, dan langit berwarna kuning. Mobil mengambang di awan, dan manusia seperti kecebong. Imajinasi anak anak prasekolah terus bekerja, dan daya serap mental mereka tentang dunia semakin meningkat. Bahasan tentang perkembangan kognitif masa awal anak anak kali ini berfokus pada tahap pemikiran praoperasional piaget.
Pada tahap masa awal anak, seorang anak telah memasuki perkembangan kognitif tahap praoperasional. Menurut piaget, tahap ini terjadi pada usia anak mencapai 2 hingga 7 tahun. Pada tahap inilah konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta keyakinan pada hal hal yang magis terbentuk.
Pemikiran praoperasional adalah awal kemampuan untuk merekonstruksi pada tingkat pemikiran apakah seorang anak dalam melakukan sesuatu. Pemikiran praoperasional juga mencakup peralihan penggunaan simbol dari yang primitif kepada yang lebih canggih. Pemikiran praoperasional dapat dibagi ke dalam dua subtahap: subtahap fungsi simbolis dan subtahap pemikiran intuitif.
Subtahap Fungsi Simbolis
Subtahap Fungsi Simbolis (symbolic function subtange) adalah subtahap pertama pemikiran praoperasional yang terjadi sekitar usia 2 hingga 4 tahun. Pada subtahap ini, anak anak mengembangkan kemampuan untuk membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada. Kemampuan untuk berpikir simbolis semacam ini disebut dengan fungsi simbolis dan kemampuan itu mengembangkan secara cepat dunia mental anak. Hal yang paling bisa diamati adalah anak kecil menggunakan desain corat coret untuk menggambarkan manusia, rumah, mobil, awan, dan lain lain.
Anak anak kecil tidak terlalu peduli dengan realitas, gambar gambar yang mereka buat penuh daya cipta. Matahari biru, langit kuning, dan mobil mengambang diawan, semua itu adalah dunia simbolis dan imajinatif mereka.
Egosentrisme (egocentrism) adalah suatu ciri pemikiran praoperasional yang menonjol. Egosentrisme adalah suatu ketidakmampuan untuk membedakan perspektif diri dengan perspektif oranglain. Anak belum memiliki kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan, dilihat dan dipikirkan oleh oranglain, ia lebih cenderung untuk melihat sesuatu dari sudut padang dirinya sendiri.
Animisme (animism) adalah bentuk lain pemikiran praoperasional. Animisme adalah keyakinan bahwa objek yang tidak bergerak memiliki suatu kehidupan dan dapat bertindak. Anak kecil dapat menunjukkan pemikiran animisme dengan mengatakan seperti: “Ma, pohon itu mendorong daunnya biar bergerak gerak agar daunya jatuh”. Anak kecil menggunakan animisme karena sulit membedakan kejadian kejadian yang tepat bagi penggunaan perspektif manusia dan buka manusia.
Namun sebagian developmentalis percaya bahwa animisme merupakan pengetahuan dan pemahaman yang kurang lengkap, bukan suatu pemahaman menetap tentang dunia. Perlu untuk menjelaskan lebih lanjut agar terbentuk pemahaman yang lebih lengkap tentang dunia.
Subtahap Pemikiran Intuitif
Subtahap pemikiran intuitif (intuitive thought substage) adalah subtahap kedua pemikiran praoperasional yang terjadi sekira usia 4 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, anak anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban atas semua bentuk pertanyaan.
Piaget menyebut pada periode waktu ini anak anak tampaknya begitu yakin tantang pengetahuan dan pemahaman mereka, tetapi belum begitu sadar bagaimana mereka tahu apa yang mereka ketahui itu. Lebih jelasnya mereka mengatakan mengetahui sesuatu, tetapi mengetahuinya dengan cara tidak menggunakan pemikiran rasional.
Centration terbukti paling jelas terjadi pada awal anak anak yang kekurangan pemahaman conservation. Conservation adalah suatu keyakinan akan keabadian atribut objek atau situasi tertentu terlepas dari perubahan yang bersifat dangkal. Seorang dewasa akan dapat membedakan dengan jelas jumlah suatu cairan (air) yang dipindah dari sebuah piring kedalam gelas dengan mengatakan jumlah cairan tetap sama. Tetapi tidak dengan anak kecil, sebaliknya mereka tertipu oleh tinggi cairan akibat tinggi gelas.
Karakteristik lain anak anak praperasional adalah mereka menanyakan serentetan pertanyaan. Pertanyaan pertanyaan anak yang paling awal tampak kira kira pada usia 3 tahun, dan pada usia 5 tahun mereka membuat pusing orang orang dewasa disekitarnya karena lelah menjawab pertanyaan pertanyaan ”mengapa” mereka.
Pertanyaan pertanyaan meraka menunjukkan akan perkembangan mental dan mencerminkan rasa ingin tahu intelektual mereka.Ppertanyaan pertanyaan ini menandai munculnya minat anak anak akan penalaran dan penggambaran kenapa sesuatu seperti itu. Seperti mengapa matahari bersinar, mengapa adik ada diperut ibu, mengapa ada orang di televisi, dan lain lain.
Dengan mengetahui dan membahas sejumlah karakteristik perkembangan kognitif anak pada tahap pemikiran praoperasional, diharapkan bisa membantu anda mengingat karakteristik ini untuk memahami bagaimana taraf berpikir anak pada usia awal anak anak.
III.3 Perkembangan Fisik (Motorik)
Perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.
Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
* Perkembangan motorik kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan oleh anak untuk melakukan gerakan tubuh.
Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.
* Perkembangan motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu.
Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.
Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Masa kanak-kanak merupakan masa-masa yang sulit bagi orang tua karena pada masa kanak-kanak awal ialah karena anak-anak sedang mengembangkan kepribadian yang unik Perubahan yang terjadi pada diri anak tersebut meliputi beberapa aspek yaitu perubahan pada aspek kognitif dan fisik. Bahasan tentang perkembangan kognitif masa awal anak anak kali ini berfokus pada tahap pemikiran praoperasional piaget. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/19/ciri-ciri-masa-awal-kanak-kanak/. Diakses tanggal 22 November 2010.
http://www.psikologizone.com/perkembangan-kognitif-masa-awal-anak-anak. Diakses tanggal 22 November 2010.
http://www.anneahira.com/kesehatan-anak/index.htm. Diakses tanggal 22 November 2010.
Rabu, 17 November 2010
Selasa, 16 November 2010
Entrepreneur
Minggu, 14 November 2010
Rabu, 10 November 2010
Makalah Motivasi Berprestasi
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kekuatan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang sangat sederhana ini.
Pada akhirnya, kami berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan kita di bidang psikologi dan tekhnologi internet umumnya dan di motivasi bekerja pada khususnya.
Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan memberikan masukan-masukan yang sangat berarti bagi penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih perlu disempurnakan lagi. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari para pembaca.
Penyusun
I.1 Latar Belakang
Motivasi kerja yang dimiliki setiap orang sangat penting untuk dimiliki, dengan adanya motivasi ini menyebabkan adanya keragaman dalam intensitas, kualitas, arah, dan lamanya perilaku kerja. Bila mutu kerja seorang dosen tidak memuaskan, perlu dicari kepastian apakah itu disebabkan oleh kurangnya pengetahuan kerja atau persepsinya yang kurang tepat atau kurangnya motivasi, atau ketiganya
I.2 Maksud dan Tujuan
Di dalam penulisan makalah iniada beberapa tujuan yang kami jabarkan, diantaranya adalah :
1. Sebagai syarat untuk memenuhi tugas Psikologi dan Tekhnologi Internet
2. Dari hasil di atas, kita jadi lebih memahami mengenai motivasi bekerja
3. Untuk membantu mahasiswa lainnya lebih memahami motivasi bekerja
I.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data, kami menggunakan metode pengumpulan data secara sekunder, yaitu pengambilan data secara tidak langsung melalui informasi yang sudah ada seperti internet.
1. Mengetahui definisi motivasi
2. Apa tujuan motivasi kerja bagi tenaga kerja
3. Situasi apa sajakah yang mempengaruhi motivasi para tenaga kerja
III.1 Definisi Motivasi
Motif seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah- laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu.
Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi (niat). menurut Wexley & Yukl (dalam As’ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif. Sedangkan menurut Mitchell (dalam Winardi, 2002) motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu. Sedangkan menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku ( motivating states ), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior ), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ). McDonald (dalam Soemanto, 1987) mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula (Suprihanto dkk, 2003).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah merupakan sejumlah proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.
III.2 Tujuan Motivasi Kerja
Pada umumnya para ahli teori perilaku beropini bahwa dalam setiap perilakunya manusia mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Keberadaan tujuan tersebut, menjadi tumpuan sinergi dengan para ahli teori motivasi yang berusaha berfikir dan mencari cara agar manusia dapat didorong berkontribusi memenuhi kebutuhan dan keinginan organisasi. Tenaga kerja penting dimotivasi untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa motivasi mereka bekerja dalam keadaan sakit hati yang menjurus pada ketiadaan kontribusi bahkan terbuka peluang kontribusi yang merugikan.
Teori hierarkhi kebutuhan Maslow menyiratkan manusia bekerja dimotivasi oleh kebutuhan yang sesuai dengan waktu, keadaan serta pengalamannya. Tenaga kerja termotivasi oleh kebutuhan yang belum terpenuhi dimana tingkat kebutuhan yang lebih tinggi muncul setelah tingkatan sebelumnya. Masing-masing tingkatan kebutuhan tersebut, tidak lain : kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan, perwujudan diri. Dari fisiologis bergerak ke tingkat kebutuhan tertinggi, yaitu, perwujudan diri secara bertahap. Terlepas menerima atau tidak kebutuhan berhierarkhi, mengetahui jenis-jenisnya adalah memberikan kontribusi silang saling memenuhi.
III.3 Situasi yang mempengaruhi motivasi para tenaga kerja
Secara umum diketahui Frederick Herbertg berteori dua situasi yang mempengaruhi tenaga kerja saat bekerja. Situasi pertama,yaitu, pemuasan yang berarti sumber kepuasan kerja seperti:prestasi, pengukuhan hasil kerja, daya tarik pekerjaan, dan tanggung jawab serta kemajuan. Situasi kedua tidak lain ketidak puasan yang bersumber dari: kebijakan, supervisi, uang, status, rasa aman, hubungan antar manusia, dan kondisi kerja. Dalam hal ini, jika situasi pertama tidak ada tidak menimbulkan ketidak puasan berlebihan. Karena ketidakpuasan muncul dari tidak memperhatikan situasi kedua. Perhatian terhadap indikator situasi pertama menjadi motivasi tenaga kerja dalam bekerja. Tampak berbasis teori ini jika ingin tenaga kerja termotivasi maka mesti memberikan situasi pertama. Kemudian Mc Gregor terkenal dengan teori X dan teori Y. Teori X memberikan petuah manajer harus memberikan pengawasan yang ketat, tugas-tugas yang jelas, dan menetapkan imbalan atau hukuman. Hal tersebut, karena manusia lebih suka diawasi daripada bebas, segan bertanggung jawab, malas dan ingin aman saja, motivasi utamanya memperoleh uang dan takut sanksi. Sebaliknya teori Y mengarahkan manajer mesti terbuka dan mendorong inisiatif kompetensi tenaga kerja. Teori Y berasumsi manusia suka kerja, sebab bekerja tidak lain aktifitas alami. Pengawasan sendiri bersifat esensial. Dengan demikian, teori X kurang baik dan teori Y adalah baik. Tidak ..tidak demikian melainkan secara bijak teori X dan Y digunakan sesuai keadaan. Terkadang mesti egois, dan terkadang juga demokratis.
Intensitas motif seseorang melakukan sesuatu adalah fungsi nilai setiap hasil yang mungkin dicapai dengan persepsi kegunaannya. Motivasi sama dengan hasil dikali nilai terus hasil perhitungannya dikalikan kembali dengan ekspektasi. Akan tetapi hal tersebut, bersyarat manusia meletakkan nilai kepada sesuatu yang diharapkannya dan mempertimbangkan keyakinan memberi sumbangan terhadap tujuan. Lantas kemampuan bekerja dan persepsi yang akurat tentang peranannya dalam organisasi diperlukan. Demikian itu, merupakan teori motivasi harapan dimana Vroom ialah orang yang menelurkannya. Sedangkan Porter dan Lawler memberikan peringatan persepsi usahayang dilatarbelakangi kemampuan dan peranan kerjanya menghasilkan cara kerja yang efektif untuk mencapai prestasi baik inisiatif sendiri maupun bukan inisiatif sendiri sehingga memperoleh imbalan yang layak dan kepuasan. Teori motivasi prestasi menegaskan manusia bekerja didorong oleh kebutuhan prestasi, afiliasi, dan kekuasaan. Kebutuhan prestasi tercermin dari keinginan seseorang mengambil tugas secara konsisten bertanggung jawab dimana untuk mencapai tujuannya ia berani mengahdapi risiko serta memperhatikan feedback. Kebutuhan afiliasi ditunjukan oleh keinginan bersahabat, memperhatikan aspek antar pribadi, bekerja sama, empati, dan efektif dalam bekerja. Sedangkan kebutuhan kekuasaan tampak pada seseorang yang mau untuk berpengaruh terhadap orang lain, cepat tanggap terhadap masalah, aktif menjalankan kebijakan organisasi, senang membantu orang ldengan mengesankan dan selalu menjaga prestasi, reputasi serta posisinya. Sekarang kita coba integrasikan teori-teori yang telah dikemukakan dengan basis pendekatan integratif. Kombinasi dari dua arah gejala harapan dan kebutuhan sebagai usaha memotivasi. Berbasis pendekatan demikian, maka kita kenal tiga hal tentang motivasi kerja. Pertama, kebutuhan individu yang terpenting adalah pencapaian, kekuasaan, afiliasi, perhitungan, ketergantungan, perluasan. Kedua, motivasi kerja berkembang pada kekuatan yang diubah dalam pola kebutuhan dan kepercayaan untuk bekerja dalam organisasi. Ketiga, hasil akhir psikologis orang bekerja tidak lain kepuasan yang diperoleh dari kerja dan peranannya. Pendek kata memotivasi dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan dan kepuasan tenaga kerja dimana organisasi dapat menetukan sendiri pola kebutuhan dan kepuasannya tanpa mengabaikan tenaga kerja.
IV.1 Kesimpulan
Motivasi yang berarti dorongan untuk memperoleh tujuan dirasakan amat penting dimiliki oleh setipa tenaga kerja, karena dengan motivasi ini setiap individu akan didorong untuk mencapai tujuannya tersebut dan mendapatkan kepuasan dalam dirinya jika dorongan tersebut tercapai. Teori hierarkhi kebutuhan Maslow menyiratkan manusia bekerja dimotivasi oleh kebutuhan yang sesuai dengan waktu, keadaan serta pengalamannya. Tenaga kerja termotivasi oleh kebutuhan yang belum terpenuhi dimana tingkat kebutuhan yang lebih tinggi muncul setelah tingkatan sebelumnya. Masing-masing tingkatan kebutuhan tersebut, tidak lain : kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan, perwujudan diri. Dari fisiologis bergerak ke tingkat kebutuhan tertinggi, yaitu, perwujudan diri secara bertahap. Terlepas menerima atau tidak kebutuhan berhierarkhi, mengetahui jenis-jenisnya adalah memberikan kontribusi silang saling memenuhi. Seperti seseorang berusaha keras mencari pekerjaan yang tidak lain mengimplementasikan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis.
IV.2 SARAN
Para tenaga kerja diharapkan memilikmi motivasi baik secara internal maupun eksternal, keberhasilan prilaku ini juga diharapkan dapat membagun performa organisasi di tempat kerja. Pelatihan dari perusahaan juga dapat membantu tenaga kerja memiliki motivasi baik
As’ad, Moh, 1998. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty.
Winardi, 1992. Manajemen Prilaku Organisasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Soemanto, Wasty, 1987. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Bina Aksara.
Noname, http://duniapsikologi.dagdigdug.com/tag/definisi-motivasi/. Diakses tanggal 8 November 2010.
Noname, http://id.shvoong.com/business-management/management/1658520-tujuh-teori-motivasi/. Diakses tanggal 8 November 2010.
Senin, 01 November 2010
LOTEK
Rabu, 27 Oktober 2010
Tumpeng
Tumpeng adalah tumpukan nasi yang berbentuk kerucut, menjulang ke atas. Bentuk ini menyimpan harapan agar kehidupan kita pun semakin "naik" dan "tinggi". Karena itulah bentuk kerucut tetap harus dipertahankan dan tidak diubah dalam bentuk lain sekalipun mungkin menjadi indah dipandang dalam bentuk baru.Gambar ini diambil kira-kira 3 tahun yang lau, ketika itu saya masih menginjak kelas 1 SMA. Tumpeng ini digunakan dalam memperingati 17 agustus dalam lomba membuat tumpeng, hasilnya adalah kelas saya yg memenangkan lomba ini. Selain bentuknya yang rapi, lauk-pauknya pun sangat komplit sehingga tumpeng kelas saya deh yang menang.
Kamis, 21 Oktober 2010
Bahaya Mie Instan
Langsung buang air rebusan pertama, setelah itu rebus lagi hingga matang, cara ini berguna untuk menghilangkan bahan berbahaya yang terkandung didalam mi instan, bahan yang dianggap berbahaya adalah natrium karbonat, jumlah bahan ini cukup banyak didalam sebungkus mi instan, antara 30-40 persen. Penderita jantung koroner dan hipertensi sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung natrium karbonat. karena bisa memicu meningkatnya tekanan darah.
Selasa, 12 Oktober 2010
Sebab-sebab timbulnya cinta
Rabu, 06 Oktober 2010
Kecemasan Yang Dialami Peserta Ujian Nasional Akibat Tekanan Dari Lingkungan
Syarat memiliki nilai standar kelulusan adalah hal yang wajib dimiliki oleh semua siswa-siswi peserta ujian nasional. Tak heran bila setiap tahunnya nilai standar kelulusan mengalami kenaikan tiap tahunnya dengan alas an menaikkan mutu dan kualitas pelajar di Indonesia. Persaingan di kala mengejar nilai-nilai yang kini menjelma menjadi sesuatu yang wajib dan harus dimiliki itu kian ketat.
Tak sedikit siswa-siswi menambah jam belajar mereka di luar jam sekolah seperti misalnya mengikuti Bimbel atau bimbingan belajar. Banyak pula mereka yang membayar guru private untuk pelajaran-pelajaran yang diujikan di ujian nasional, padahal di setiap sekolah biasanya diadakan jam tambahan lebih untuk pelajaran-pelajaran yang diujikan. Stamina dan energy yang seharusnya diperlukan kian menurun disebabkan padatnya aktivitas tambahan pelajaran ataupun tugas-tugas dari sekolah, jam tidur kian berkurang, pola makan menjadi tidak teratur, dan kebutuhan akan hiburan kian sedikit.
Tekanan-tekanan yang timbul tak hanya dari diri sendiri saja tetapi juga dari lingkungan seperti guru dan orang tua. Mereka yang mengharapkan anak-anak lulus dengan hasil yang memuaskan kerap menjadi suatu beban yang harus dipikul, menjadi terasa berat karena hasil yang diperoleh nanti adalah sebagai bukti keseriusan mereka dalam menuntut ilmu. Sekolah pun mengharapkan siswa-siswa nya dapat lulus 100 persen. Beban inilah yang menjadi rasa cemas yaitu suatu proses emosi yang bercampur aduk menjadi satu yang terjadi saat individu mengalami tekanan perasaan dan pertentangan batin. Kecemasan tersebut kian kali menjadi suatu ketakutan yang luar biasa seperti misalnya takut tidak lulus atau takut mendapat hukuman dari orang tua bila tidak lulus. Rasa cemas yang berlebihan juga seringkali menyebabkan sang anak menjadi stres, mengalami jatuh sakit ketika hari ujian atau tidak mempunyai selera makan. Perasaan emosi yang tidak stabil juga sering terjadi pada mereka. Banyak juga siswa yang mengambil jalan pintas dengan menggunakan joki ataupun membeli kunci-kunci jawaban agar mereka bisa lulus.
Banyaknya masyarakat yang memberikan persepsi bahwa kelulusan adalah bukti seseorang berprestasi atau serius dalam belajar menjadi hal yang pro dan kontra, tak sedikit juga masyarakat yang pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah berpendapat bahwa nilai-nilai kognitif, afektif dan psikomotor anak juga merupakan penilaian yang tak kalah penting.
Peran orangtua dan guru sebagai pembimbing dirasakan membawa dampak yang besar bagi sanag anak. Dukungan dan motivasi yang besar sangat diperlukan bagi mental dan psikis anak.

.jpg)


