TUGAS
MAKALAH PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INTERNET
KOMPUTER DALAM BIDANG PSIKOLOGI PENDIDIKAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunianya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan penulisan makalah ini, untuk memenuhi tugas Psikologi dan Tekhnologi Internet serta untuk menambah Ilmu Pengetahuan.
Saya menyadari karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang saya miliki, maka makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat saya harapkan.
Akhir kata saya mengucapkan banyak terima kasih dan mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis
Depok, 6 Januari 2011
Daftar Isi
Kata Pengantar………………………………………………………………………………i
Daftar isi…………………………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN
I.1…………………………………………………………………………...1
I.2…………………………………………………………………………...1
BAB II PEMBAHASAN
2.2.1 Hubungan Psikologi Pendidikan Dengan Media Pembelajaran………2
2.2.2 Manfaat Komputer Dalam Dunia Psikologi Pendidikan……………...2
2.2.3 Dampak negatif psikologi yang ditimbulkan dari computer…………..3
2.2.4 Peran Guru…………………………………………………………….5
2.2.5 Internet dalam belajar dan mengajar………………………………….5
BAB III PENUTUP…………………………………………………………………..8
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………… 9
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Saat ini, perkembangan teknologi telah merambah berbagai bidang. Teknologi tidak lagi sekedar untuk teknologi, tapi teknologi yang telah mencakup berbagai ranah kehidupan manusia, teknologi yang telah mempengaruhi kehidupan manusia, teknologi yang telah menjadi bagian integral kehidupan manusia. Di dalam bidang pendidikan pula, para pelajar dan guru dapat menggunakan komputer dalam sesi pembelajaran. Selain itu, komputer juga membantu para pelajar belajar secara sistematik. Para pelajar kini lebih mudah mengakses serta menyimpan materi-materi secara lebih mudah.
I.2 Tujuan Pembuatan Makalah
Di dalam pembuatan makalah ini ada beberapa tujuan yang kami jabarkan, diantaranya adalah
1. Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Psikologi dan Teknologi Internet
2. Dari hasil diatas, kami ingin mengetahui lebih dalam akan komputer dalam bidang psikologi pendidikan
3. Untuk membatu para mahasiswa dalam mengenal komputer dalam bidang psikologi pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
2.2.1 Hubungan Psikologi Pendidikan Dengan Media Pembelajaran
Untuk memenuhi peran guru yang sebenarnya dalam pembelajaran, yaitu sebagai perencana pengajaran, penyampai informasi, dan penilai, maka guru perlu mengetahui dan menggunakan media pembelajaran dalam setiap proses pembelajaran. Media dalam pembelajaran seperti AVA (Audio Visual Aids) mutlak diperlukan dalam pendidikan dikarenakan penggunaan AVA dapat memperluas saluran serta memperpendek jarak antara siswa dan guru sehingga materi yang disampaikan akan lebih tersampaikan secara efektif. Lain halnya jika guru hanya berbicara panjang lebar kepada siswa tanpa adanya media, tentu akan terasa membosankan dan kurang efektif.
Untuk memahami peranan media dalam proses mendapatkan pengalaman belajar bagi siswa, Edgar Dale melukiskannya dalam sebuah kerucut yang kemudian dinamakanKerucut Pengalaman Edgar Dale (Edgar Dale cone of experience). Kerucut pengalaman ini dianut secara luas untuk menentukan alat bantu atau media apa yang sesuai agar siswa memperoleh pengalaman belajar secara mudah.
Sebagai contoh, misalnya dalam mata pelajaran IPS guru dapat menggunakan fasilitas yang disediakan oleh Google, yaitu Google Earth untuk menggantikan peta biasa yang kurang merepresentasikan bumi seutuhnya. Sedangkan dengan menggunakan Google Earth, siswa dapat melihat dengan jelas struktur dan bentuk bumi secara nyata.
2.2.2 Manfaat Komputer Dalam Dunia Psikologi Pendidikan
1) Bidang informasi dan komunikasi
2) Menambah pengetahuan yang lebih luas dari berbagai negara
3) Tercipta metode-metode pembelajaran terbaru dalam pengajaran
4) Sistem pembelajaran tidak harus tatap muka
5) Membuat mahasiswa dapat melakukan control terhadap aktivitas belajarnya
6) Dapat menayangkan kembali informasi yang diperlukan
7) Komputer dapat diprogram untuk memeriksa dan memberikan skor hasil belajar secara otomatis
8) Dapat meningkatkan hasil belajar dengan penggunaan waktu dan biaya yang relative kecil
9) Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu
2.2.3 Dampak negatif psikologi yang ditimbulkan dari komputer
1. Anti Sosial
Sikap dan perilaku anti sosial terbentuk dari terpaan isi program dari fitur yang diciptakan dari media ini komputer. Salah satu fitur yang banyak menghiasi isi software komputer adalah permainan. Baik anak-anak, remaja sampai orang dewasa menggunakan komputer untuk memainkan permainan kesukaan mereka masing-masing.
Contohnya saja mahasiswa-mahasiswa bermain permainan olahraga atau perang-perangan seperti counter strike (CS) yang merupakan permainan dalam komputer. Biasanya mereka memainkan permainan kesukaan mereka ini disela-sela kegiatan mereka ketika jenuh atau sedang beristirahat. Permainan komputer banyak memberikan bumbu-bumbu kekerasan di dalamnya.
Berdasarkan penelitian eksperimen dalam buku yang ditulis Andersen, permainan komputer dengan kandungan kekerasan memiliki tingkat terpaan kekerasaan yang sama seperti terpaan dalam program televisi. Bahkan sebuah penelitian menyatakan bahwa permainan video (video games) memiliki kemampuan lebih besar untuk membuat anak-anak menjadi kurang sensitif terhadap kekerasan dibandingkan televisi atau pun pengalaman kehidupan yang bersinggungan dengan kekerasan.
2. Computer Anxiety (kecemasan, ketakutan terhadap komputer)
Ketakutan terhadap komputer ini menerpa hampir sepertiga populasi pengguna dewasa komputer. Beberapa akibat dari kasus yang paling menakutkant yang dirasakan terhadap komputer adalah mual-mual, vertigo, dan keringat yang bercucuran. Penyebab ketakutan mereka ada banyak hal dan salah satunya karena ketakutan mereka akan mendapatkan bencana dengan menekan kunci yang salah.
Dalam hal ini ketakutan mereka dihubungkan dengan tingkat privasi yang dapat ditembus karena kesalahan mereka menekan tombol misalnya saja menekan gambar spam yang ada dalam internet. Penyebab lainnya adalah perasaan lepas kendali yang dirasakan orang-orang non teknis atau tidak memilki kemampuan teknis pada komputer ketika dihadapkan pada sistem teknis yang kompleks dan menyulitkan. Biasanya ketakutan terhadap komputer ini dialami oleh perempuan-perempuan dan orang yang mempunyai kemampuan matematika yang rendah.
3. Adiksi terhadap internet
Komputer juga dapat membuat kecenderungan adiksi pada semua orang yang menggunakan komputer. Perasaan ini mendorong orang untuk terus-menerus menggunakan komputer layaknya orang yang mengidap ketagihan narkotika. Komputer beserta fitur yang ditawarkannya secara tidak sengaja membentuk komputer menjadi seperti obat yang harus diminum dan jika tidak diminum akan menimbulkan rasa sakit tersendiri yang dialami para penggunanya. Situs-situs yang ada dalam internet dengan jasa dan layanan yang ditawrakna dapat memenuhi kepuasan dan kebutuhan orang yang memakainya.
Situs permainan, layanan komunikasi interaktif membuat komputer menjadi komoditi teknologi yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia sama seperti keberadaan telepon seluler saat ini. Rasa ketagihan yang membuat orang terus menerus menggunakan komputer menurut para ahli merupakan indikasi dari pembentukan kebiasaan media. Dan yang mematikan adiksi ini dapat menghancurkan kehidupan manusia. Jadi kehidupan seseorang dapat hancur melalui internet karena perilaku adiksinya terhadap internet.
2.2.4 Peran Guru
Guru adalah inti dari proses pendidikan, sehingga harus terbuka untuk semua dan fleksibel untuk memungkinkan kreativitas dan inovasi, untuk dapat memenuhi tantangan dan berdiri di hadapan persyaratan umur dan tantangan dan apa yang disebut globalisasi, dan itu menimbulkan tantangan budaya, sosial dan ekonomi.
Dan melalui itu dapat diringkas peran guru di era teknologi empat bidang berikut:
1. Desain sistem pendidikan.
2. Teknologi rekrutmen.
3. Mendorong interaksi antara siswa.
4. Pengembangan belajar mandiri di kalangan siswa.
5. Guru konektor dan pengembang tutorial.
2.2.5 Internet dalam belajar dan mengajar
Kekayaan akan informasi yang sekarang tersedia di Internet telah lebih mencapai harapan dan bahkan imajinasi dari para penemu sistem yang pertama. Internet awalnya diciptakan untuk kebutuhan system pertahanan militer supaya dapat didesentralisasikan sehingga dapat mengurangi resiko kerusakkan total, mungkin saja hal inibisa terjadi apabila sistem sentral komputer utama dimusnahkan.
Internet juga dapat didesentralisasikan dan diberdayakan. Dengan menggunakan internet kita dapat mengakses sumber-sumber informasi tanpa batas dan sedang berkembang secara cepat sekali. Kita dapat berkomunikasi secara masing-masing atau secara massa yang dapat dilakukan dimana saja diseluruh dunia hanya dalam waktu beberapa detik saja. Kita dapat menyebarkan (publish) informasi yang bisa di akses dari mana saja di seluruh dunia dalam waktu singkat sekali. Kita dapat berkomunikasi secara langsung (real time) melalui telepon dan unit video processing. Kita bisa melakukan "chat" melalui jaringan gratis "chat" yang sangat luas yaitu mIRC.
Bagi para guru internet menawarkan beberapa kesempatan untuk diraih:
Pengembangan Profesional
(a) Meningkatkan pengetahuan
(b) Berbagi sumber diantara rekan sejawat/ sedepartemen
(c) Bekerjasama dengan guru-guru dari luar negeri
(d) Kesempatan untuk menerbitkan /mengumumkan secra langsung
(e) Mengatur komunikasi secara teratur
(f) Berpatisipasi dalam forum dengan rekan sejawat baik local maupun internasional.
Sumber bahan mengajar :
(a). Mengakses rencana belajar mengajar & metodologi baru
(b). Bahan baku & bahan jadi cocok untuk segala bidang pelajaran
(c). Mengumumkan dan berbagi sumber. Sangat tingginya popularitas / sangat tingginya minat untuk meningkatkan siswa lebih terfokus belajar.
Untuk siswa Internet menawarkan kesempatan untuk;
Belajar sendiri secara cepat :
(a).Meningkatkan pengetahuan
(b). Belajar berinteraktif
(c). Mengembangkan kemampuan di bidang penelitian
Memperkaya diri :
(a).Meningkatkan komunikasi dengan siswa lain
(b). Meningkatkan kepekaan akan permasalahan yang ada diseluruh dunia
Walaupun Internet berpotensi untuk menyampaikan keuntungan-keuntungan tersebut bagi para guru maupun para siswa, pemakaian Internet di kelas hendaknya harus disusun sedemikian rupa dengan belajar mendefisinasikan secara obyektif. Kegiatan siswa juga harus dimonitor dengan baik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan siswa untuk mengahadapi tantangan-tantangan dalam masyarakat sangat cepat perubahannya. Sala satu dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu. Kemampuan berbicara dalam bahasa asing dan kemahiran komputer merupakan dua kriteria utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di Indonesia. Komputer juga memiliki dampak yang negative, sehingga perlu dihindari penggunaannya secara berlebihan. Peran guru juga dirasakan amat penting untuk mengembangkan pengetahuan di era globalisasi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bobby. 2010. Hubungan Psikologi Pendidikan Dengan Media Pembelajaran http://09034bobby.wordpress.com/2010/03/05/hasil-diskusi-online-kelompokkuliah-online-2/#more-178. Akses 4 Januari 2010.
Anonim. 2010. Internet dan Pendidikan. http://e-pendidikan.com/inter.html. Akses 4 Januari 2010.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Teknologi Pembelajaran. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/20/teknologi-pembelajaran/. Akses 4 Januari 2010.
Anonim. http://www.scribd.com/doc/9581464/Bidang-Kajian-Teknologi-Pembelajaran. Akses 4 Januari 2010.
Robiyanto. 2009. Makalah Manfaat Teknologi Komputer Bagi Masyarakat.http://www.scribd.com/doc/28773384/Makalah-Manfaat-Teknologi-Komputer-Bagi-Masyarakat. Akses 4 Januari 2010.
Jumat, 07 Januari 2011
Tugas makalah Psikologi dan Tekhnologi Internet
Selasa, 04 Januari 2011
Bahaya otak tengah
Perdebatan mengenai otak tengah; perlu tidaknya otak tengah tersebut diaktifkan; terus terjadi. Masyarakat makin memahami pentingnya menyeimbangkan kedua belahan otak kanan dan kiri, karena masing-masing belahan tersebut memiliki beragam fungsi yang saling mengisi dalam perjalanan panjang kehidupan seorang manusia. Ironisnya seolah belum puas dengan kekayaan kedua belahan otak kita, sekelompok ilmuwan mulai mengotak-atik dan mencari bagian lain, yang dinamakan otak tengah. Mereka mencari tahu apakah dengan mengaktivasi otak tengah kecerdasan seseorang akan makin bertambah, atau mengubah mereka menjadi jenius, serta memiliki berbagai kecerdasan lain yang supra-natural?
Di kalangan medis otak tengah ini dikenal sebagai bagian dari otak manusia yang memiliki fungsi sangat vital, misalnya sebagai pusat pengendali jantung, pembuluh darah, pernafasan, * refleks-refleks, dan masih banyak lagi. Berbagai tulisan ilmiah mengenai otak tengah ini bisa kita baca dalam berbagai tulisan sepuluh tahun terakhir. Sayangnya sampai hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang berani menyatakan bahwa aktivasi otak tengah berhubungan dengan kecerdasan seseorang, apalagi membuat IQ seseorang meloncat jauh melebihi IQ manusia pada umumnya, atau dikenal dengan istilah jenius. Dahulu orang berpikir bahwa kecerdasan identik dengan IQ, meskipun mereka mengetahui dalam test IQ yang diukur hanyalah
kecerdasan seseorang di bidang matematika, linguistik dan sedikit visuo-spatial.
Sehubungan dengan otak tengah tadi, muncul pertanyaan, adakah
hubungan antara kecerdasan ini dengan fungsi otak tengah / mid brain
seseorang? Benarkah aktivasi otak tengah membuat seseorang makin
cerdas dan jenius, karena memiliki kemampuan supra-natural?
Dalam tulisannya, Lely Setyawati Kurniawan, seorang Psikiater dari Denpasar, Bali, menyebut kondisi seperti yang dialami oleh anak-anak di atas sebagai awareness, yakni suatu kondisi mental penuh kewaspadaan. Kondisi awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai gangguan kejiwaan, berupa gejala yang ringan berupa Gangguan Cemas Menyeluruh, sampai tipe berat berupa Gangguan Paranoid.
Kondisi awareness tersebut muncul setelah otak tengah anak-anak tersebut diaktivasi dengan suatu cara tertentu, seperti memperdengarkan alunan musik klasik dan instrumentalia lainnya, gerakan-gerakan tubuh, menciptakan suasana tertentu, dan lain-lain, kemudian ditambah juga dengan program neuro-linguistik (NLP) yang disisipkan demi sebuah proses aktivasi yang nantinya mengarah pada suatu keadaan extra sensory perception (ESP).
Namun perlu diketahui bahwa hingga hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang menyatakan bahwa aktivasi otak tengah meningkatkan kecerdasan manusia, apalagi meng-upgrade-nya menjadi jenius.
Sebaliknya penelitian beberapa ahli sudah membuktikan secara ilmiah bahwa aktivasi otak tengah bisa memberikan dampak buruk bagi fungsi organ tubuh, seperti penelitian Musa A. Haxiu & Bryan K. Yamamoto (2002) membuat suatu penelitian otak tengah pada 24 ekor musang jantan. Hasilnya aktivasi otak tengah di daerah periaquaductal gray (PAG) ternyata justru mengakibatkan otot-otot polos pernafasan mengalami relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan hewan-hewan tersebut.
Begitu juga dengan penelitian Peter D. Larsen, Sheng Zhong, dkk. (2001) ada beberapa hal yang berubah karena aktivasi otak tengah, misalnya tekanan arteri utama (mean arterial pressure), aliran darah di ginjal (renal blood flow), aliran darah di daerah paha (femoral blood flow), persarafan daerah bawah jantung (Inferior cardiac), persarafan simpatis dan denyut jantung akan makin meningkat, sebaliknya tekanan darah justru turun, aktivitas persarafan di daerah tulang belakang juga turun. Peningkatan tekanan arteri, aliran darah ginjal dan paha tersebut bisa mencapai 328%.
Tulisan Hugo D. Critchley, Peter Taggart dkk. (2005) membuat kita lebih terperangah lagi, karena ternyata induksi lateralisasi pada aktifitasi otak tengah dapat mengakibatkan mental stres, serta berbagai stres lain yang akan memicu gangguan irama jantung dan kematian mendadak (sudden death). Penyebabnya adalah karena tidak seimbangnya dorongan simpatetik persyarafan jantung.
sumber :
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=17522
http://gracecenterbali.blogspot.com/2010/04/mengaktivasi-otak-tengah-pikirkan-dulu.html
Di kalangan medis otak tengah ini dikenal sebagai bagian dari otak manusia yang memiliki fungsi sangat vital, misalnya sebagai pusat pengendali jantung, pembuluh darah, pernafasan, * refleks-refleks, dan masih banyak lagi. Berbagai tulisan ilmiah mengenai otak tengah ini bisa kita baca dalam berbagai tulisan sepuluh tahun terakhir. Sayangnya sampai hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang berani menyatakan bahwa aktivasi otak tengah berhubungan dengan kecerdasan seseorang, apalagi membuat IQ seseorang meloncat jauh melebihi IQ manusia pada umumnya, atau dikenal dengan istilah jenius. Dahulu orang berpikir bahwa kecerdasan identik dengan IQ, meskipun mereka mengetahui dalam test IQ yang diukur hanyalah
kecerdasan seseorang di bidang matematika, linguistik dan sedikit visuo-spatial.
Sehubungan dengan otak tengah tadi, muncul pertanyaan, adakah
hubungan antara kecerdasan ini dengan fungsi otak tengah / mid brain
seseorang? Benarkah aktivasi otak tengah membuat seseorang makin
cerdas dan jenius, karena memiliki kemampuan supra-natural?
Dalam tulisannya, Lely Setyawati Kurniawan, seorang Psikiater dari Denpasar, Bali, menyebut kondisi seperti yang dialami oleh anak-anak di atas sebagai awareness, yakni suatu kondisi mental penuh kewaspadaan. Kondisi awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai gangguan kejiwaan, berupa gejala yang ringan berupa Gangguan Cemas Menyeluruh, sampai tipe berat berupa Gangguan Paranoid.
Kondisi awareness tersebut muncul setelah otak tengah anak-anak tersebut diaktivasi dengan suatu cara tertentu, seperti memperdengarkan alunan musik klasik dan instrumentalia lainnya, gerakan-gerakan tubuh, menciptakan suasana tertentu, dan lain-lain, kemudian ditambah juga dengan program neuro-linguistik (NLP) yang disisipkan demi sebuah proses aktivasi yang nantinya mengarah pada suatu keadaan extra sensory perception (ESP).
Namun perlu diketahui bahwa hingga hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang menyatakan bahwa aktivasi otak tengah meningkatkan kecerdasan manusia, apalagi meng-upgrade-nya menjadi jenius.
Sebaliknya penelitian beberapa ahli sudah membuktikan secara ilmiah bahwa aktivasi otak tengah bisa memberikan dampak buruk bagi fungsi organ tubuh, seperti penelitian Musa A. Haxiu & Bryan K. Yamamoto (2002) membuat suatu penelitian otak tengah pada 24 ekor musang jantan. Hasilnya aktivasi otak tengah di daerah periaquaductal gray (PAG) ternyata justru mengakibatkan otot-otot polos pernafasan mengalami relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan hewan-hewan tersebut.
Begitu juga dengan penelitian Peter D. Larsen, Sheng Zhong, dkk. (2001) ada beberapa hal yang berubah karena aktivasi otak tengah, misalnya tekanan arteri utama (mean arterial pressure), aliran darah di ginjal (renal blood flow), aliran darah di daerah paha (femoral blood flow), persarafan daerah bawah jantung (Inferior cardiac), persarafan simpatis dan denyut jantung akan makin meningkat, sebaliknya tekanan darah justru turun, aktivitas persarafan di daerah tulang belakang juga turun. Peningkatan tekanan arteri, aliran darah ginjal dan paha tersebut bisa mencapai 328%.
Tulisan Hugo D. Critchley, Peter Taggart dkk. (2005) membuat kita lebih terperangah lagi, karena ternyata induksi lateralisasi pada aktifitasi otak tengah dapat mengakibatkan mental stres, serta berbagai stres lain yang akan memicu gangguan irama jantung dan kematian mendadak (sudden death). Penyebabnya adalah karena tidak seimbangnya dorongan simpatetik persyarafan jantung.
sumber :
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=17522
http://gracecenterbali.blogspot.com/2010/04/mengaktivasi-otak-tengah-pikirkan-dulu.html
Minggu, 02 Januari 2011
Manfaat otak tengah
aktivasi otak tengah adalah suatu penemuan fenomenal dalam pendidikan anak. Teori penggunaan otak tengah sebenarnya telah banyak dilakukan pada banyak negara negara di Asia terutama Jepang. Jepang telah lama melakukan praktek aktivasi otak tengah pada anak-anak.Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengah akan memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak yang otak tengahnya belum di aktivasi.
Kegiatan dengan mata tertutup adalah suatu kegiatan yang paling nyata dapat dilihat. Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengahnya (Mid Brain Activated) dapat mempunyai kemampuan luar biasa. Kemampuan ini bahkan sering kali dipertontonkan secara menakjubkan dalam program hiburan sulap. Setelah melihat kemampuan anak yang telah diaktivasi, sebagian besar acara pertandingan sulap di The Master menjadi kurang menarik. Karena hal ini dapat dilakukan sendiri oleh anak-anak polos yang hanya mengikuti training aktivasi otak tengah selama 2 hari. Kemampuan dasar yang dapat dilakukan adalah ‘melihat’ kartu dengan mata ditutup (blind fold). Christofle (9 thn) misalnya, setelah mengikuti training aktivasi otak tengah, dapat mengurutkan seluruh kartu remi sesuai dengan angka, warna dan bentuk gambar kartu dengan mata tertutup. Ia dapat mempergunakan indra raba untuk melihat pola dan warna lengkap dengan angka hanya dengan penglihatan kulit (Skin Vision).
Kemampuan lain yang dapat dilakukan oleh anak-anak ini adalah berjalan dengan mata ditutup, tanpa menabrak. Dilakukan percobaan pada seorang anak yang berjalan dengan mata ditutup kain. Seseorang sengaja menghalangi jalan didepannya. Dia serta merta dapat menghindari rintangan tersebut tanpa menyentuhnya. Seorang anak bahkan dapat mengenali ayahnya diantara kerumunan orang-tua lainnya, tanpa menyentuh dan mendengar suaranya.
Pada tingkatan yang lebih lanjut seorang anak diharapkan dapat ‘melihat’ benda dibalik tembok atau didalam kotak. Ia bahkan dapat menghitung uang yang terdapat dalam dompet seeorang di hadapannya tanpa orang tersebut mengeluarkan dompetnya. Jika seorang anak rajin melatih fungsi otak tengahnya bahkan dia dapat mengharapkan membaca dokumen yang terletak dalam posisi tertutup.
Kemampuan prediksi (memperkirakan apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian) adalah kemampuan yang lebih tinggi yang dapat di miliki oleh seorang anak. Seorang anak yang telah mendapat aktivasi otak tengah dapat ‘menduga’ kartu apa yang akan muncul pada saat orang tersebut masih mengocok kartunya. Begitu selesai mengocok, dan memilih sebuah kartu, orang tersebut mengambil sebuah kartu yang ternyata tepat seperti ‘dugaan’ sang anak tersebut.
keuntungan aktivasi otak tengah
1.Ketika otak tengah diaktifkan , anak anda akan memiliki akses yang mudah ke baik otak kiri maupun kanan. Dengan akses mudah ini, mereka akan belajar, membaca dan mengahafal benda-benda dalam kecepatan yang lebih cepat dan dengan demikian meningkatkan keyakinan, minat dan konsentrasi mereka dalam belajar.
2.Otak tengah yang telah teraktivasi dapat membuat keseimbangan hormon dalam tubuh seseorang menjadi lebih baik. Salah satu fungsi otak tengah adalah mengatur hormon, di mana area yang mendapat pengaruh cukup besar adalah emosi. Seseorang yang otak tengahmya telah diaktifkan mempunyai keseimbangan emosi yang sangat baik dan mampu mengontrol emosinya dengan lebih baik.
3. Meningkatkan Kemampuan Fisik dalam Berolahraga
Otak tengah adalah bagian otak yang mengatur gerakan tubuh. Banyak anak merasakan peningkatan dalam pengontrolan gerakan tubuh setelah otak tengah mereka diaktivasi, terutama ketika berolahraga yang membutuhkan ketelitian tinggi. Manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh mereka yang senang berolahrega tetapi juga oleh mereka yang senang dengan tarian dan gerakan tubuh lainnya. Gerakan yang banyak membutuhkan koordinasi mata dengan bagian tubuh yang lain akan banyak sekali ditingkatkan dengan aktifnya otak tengah.
4. Manfaat Secara Umum
Setelah otak tengah teraktivasi, masalah mental dapat diminimalisasikan. Oleh sebab itu, seorang anak yang hiperaktif dapat duduk dengan tenang, anak yang terlalu diam menjadi lebih aktif karena anak-anak tersebut telah memiliki otak tengah yang dominan. Hanya orang-orang yang dominan otak tengahnya yang dapat mengontrol otak kanan dan otak kiri sekaligus.
Umumnya masyarakat Indonesia didominasi oleh otak kiri. Penuh perhitungan, iri hati atau penuh kebencian biasanya muncul dari otak kiri. Jika otak kanan menjadi dominan kita akan penuh rasa kasih dan mengandalkan perasaan. Tentu saja menjadi keinginan kita semua untuk melihat masyarakat yang pandai sekaligus ramah tamah. Hal ini dimungkinkan dengan adanya dominasi otak tengah yang memungkinkan kedua otak berfungsi dengan baik dan benar.
sources :
http://www.mbcindonesia.com/v1/index.php?option=com_content&view=article&id=54&Itemid=56
http://otaktengah.com/
http://gmc-aktivasiotaktengah.com/manfaat-aktivasi-otak-tengah
Kegiatan dengan mata tertutup adalah suatu kegiatan yang paling nyata dapat dilihat. Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengahnya (Mid Brain Activated) dapat mempunyai kemampuan luar biasa. Kemampuan ini bahkan sering kali dipertontonkan secara menakjubkan dalam program hiburan sulap. Setelah melihat kemampuan anak yang telah diaktivasi, sebagian besar acara pertandingan sulap di The Master menjadi kurang menarik. Karena hal ini dapat dilakukan sendiri oleh anak-anak polos yang hanya mengikuti training aktivasi otak tengah selama 2 hari. Kemampuan dasar yang dapat dilakukan adalah ‘melihat’ kartu dengan mata ditutup (blind fold). Christofle (9 thn) misalnya, setelah mengikuti training aktivasi otak tengah, dapat mengurutkan seluruh kartu remi sesuai dengan angka, warna dan bentuk gambar kartu dengan mata tertutup. Ia dapat mempergunakan indra raba untuk melihat pola dan warna lengkap dengan angka hanya dengan penglihatan kulit (Skin Vision).
Kemampuan lain yang dapat dilakukan oleh anak-anak ini adalah berjalan dengan mata ditutup, tanpa menabrak. Dilakukan percobaan pada seorang anak yang berjalan dengan mata ditutup kain. Seseorang sengaja menghalangi jalan didepannya. Dia serta merta dapat menghindari rintangan tersebut tanpa menyentuhnya. Seorang anak bahkan dapat mengenali ayahnya diantara kerumunan orang-tua lainnya, tanpa menyentuh dan mendengar suaranya.
Pada tingkatan yang lebih lanjut seorang anak diharapkan dapat ‘melihat’ benda dibalik tembok atau didalam kotak. Ia bahkan dapat menghitung uang yang terdapat dalam dompet seeorang di hadapannya tanpa orang tersebut mengeluarkan dompetnya. Jika seorang anak rajin melatih fungsi otak tengahnya bahkan dia dapat mengharapkan membaca dokumen yang terletak dalam posisi tertutup.
Kemampuan prediksi (memperkirakan apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian) adalah kemampuan yang lebih tinggi yang dapat di miliki oleh seorang anak. Seorang anak yang telah mendapat aktivasi otak tengah dapat ‘menduga’ kartu apa yang akan muncul pada saat orang tersebut masih mengocok kartunya. Begitu selesai mengocok, dan memilih sebuah kartu, orang tersebut mengambil sebuah kartu yang ternyata tepat seperti ‘dugaan’ sang anak tersebut.
keuntungan aktivasi otak tengah
1.Ketika otak tengah diaktifkan , anak anda akan memiliki akses yang mudah ke baik otak kiri maupun kanan. Dengan akses mudah ini, mereka akan belajar, membaca dan mengahafal benda-benda dalam kecepatan yang lebih cepat dan dengan demikian meningkatkan keyakinan, minat dan konsentrasi mereka dalam belajar.
2.Otak tengah yang telah teraktivasi dapat membuat keseimbangan hormon dalam tubuh seseorang menjadi lebih baik. Salah satu fungsi otak tengah adalah mengatur hormon, di mana area yang mendapat pengaruh cukup besar adalah emosi. Seseorang yang otak tengahmya telah diaktifkan mempunyai keseimbangan emosi yang sangat baik dan mampu mengontrol emosinya dengan lebih baik.
3. Meningkatkan Kemampuan Fisik dalam Berolahraga
Otak tengah adalah bagian otak yang mengatur gerakan tubuh. Banyak anak merasakan peningkatan dalam pengontrolan gerakan tubuh setelah otak tengah mereka diaktivasi, terutama ketika berolahraga yang membutuhkan ketelitian tinggi. Manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh mereka yang senang berolahrega tetapi juga oleh mereka yang senang dengan tarian dan gerakan tubuh lainnya. Gerakan yang banyak membutuhkan koordinasi mata dengan bagian tubuh yang lain akan banyak sekali ditingkatkan dengan aktifnya otak tengah.
4. Manfaat Secara Umum
Setelah otak tengah teraktivasi, masalah mental dapat diminimalisasikan. Oleh sebab itu, seorang anak yang hiperaktif dapat duduk dengan tenang, anak yang terlalu diam menjadi lebih aktif karena anak-anak tersebut telah memiliki otak tengah yang dominan. Hanya orang-orang yang dominan otak tengahnya yang dapat mengontrol otak kanan dan otak kiri sekaligus.
Umumnya masyarakat Indonesia didominasi oleh otak kiri. Penuh perhitungan, iri hati atau penuh kebencian biasanya muncul dari otak kiri. Jika otak kanan menjadi dominan kita akan penuh rasa kasih dan mengandalkan perasaan. Tentu saja menjadi keinginan kita semua untuk melihat masyarakat yang pandai sekaligus ramah tamah. Hal ini dimungkinkan dengan adanya dominasi otak tengah yang memungkinkan kedua otak berfungsi dengan baik dan benar.
sources :
http://www.mbcindonesia.com/v1/index.php?option=com_content&view=article&id=54&Itemid=56
http://otaktengah.com/
http://gmc-aktivasiotaktengah.com/manfaat-aktivasi-otak-tengah
Senin, 29 November 2010
Perkembangan bahasa anak
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti : biologis, kognitif dan emosional.
Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti) sinfaksis (tata bahasa). Dengan bahasa anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaan pada orang lain.
Menurut Owens (dalam papalia et al, 1990), mengemukakan bahwa anak usia dini dapat menggunakan past mapping yaitu suatu proses dimana anak dapat menyerap arti kata baru setelah mendengarkan sekali atau dua kali di dalam percakapan/suatu kalimat yang berbentuk kalimat pertanyaan, negative dan perintah.
Perkembangan berbicara dan menulis merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti. Perkembangan berbicara pada awal dari anak yaitu menggumam maupun membeo, sedangkan perkembangan menulis pada anak berawal dari kegiatan mencoret-coret sebagai hasil ekspresi anak.
Menurut pendapat Dyson bahwa perkembangan berbicara terkadang individu dapat menyesuaikan dengan keinginannya sendiri, hal ini tidak sama dengan menulis. Pada anak dan ingin mengetahui seberapa besar keterlambatan bicara pada anak dan ada gangguan-gangguan yang telah dialami anak tersebut didalam berbicara/berbahasa anak.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Perkembangan Berbicara Pada Anak
Ketika anak tumbuh dan berkembang terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan). Produk bahasanya secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekpresikan mimic wajah dengan cara berkomunikasi.
Alat komunikasi berbicara pada anak menggunakan gerakkan dan tanda isyarat untuk menunjukkan keinginannya secara bertahap dan berkembang menjadi suatu komunikasi melalui ajaran yang tepat dan jelas. Hal ini dapat terlihat sejak awal perkembangan dimana bayi mengeluarkan suara “ocehan” yang kemudian menjadi system symbol bunyi yang bermakna.
Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi system bunyi dalam bahasa bagian terkecil dari system bunyi tersebut dikenal dengan nama fonem yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga 1 tahun. Sedangkan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa. Bagian terkecil dari bahasa tersebut dikenal dengan istilah morfem sebagai contoh anak yang masih kecil mengucapkan kalimat “mam” yang artinya “makan”.
Perkembangan sinteksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai dengan aturan yang menghasilkan suatu pemikiran dan kalimat yang utuh. Pada dua tahun pertama anak tidak melibatkan kata sandang, sifat maupun kata keterangan didalam berkomunikasi. Dengan bertambahnya usia anak seiring dengan perkembangan didalam berbahasa mulai melibatkan komponen ponologi maupun morpologi lebih banyak perbendaharaan/mengucapkan 3-4 kosa kata. Ketika anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang anak yang menggunakan intonasi didalam menanyakan suatu informasi dengan memberikan penekanan pada kalimat seperti “makan ayam”, “kakak sekolah”.
Bocoler and linke (1996) memberikan suatu gambar tentang kemampuan berbahasa anak usia 3-5 tahun. Pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak kosa kata dan tanda Tanya “apa”, “siapa”, sedangkan pada usia 4 tahun anak mulai pandai bercakap-cakap, seperti member nama usia, alamat, dan sudah mulai memahami waktu. Adapun beberapa aturan didalam menggunakan bahasa yang tepat pada waktu/situasi sosial yang berbeda. Seorang anak dapat dikatakan memiliki suatu kompetensi berkomunikasi ketika telah memahami penggunaan bahasa yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Didalam hal ini anak perlu/membutuhkan suatu bimbingan dari orang yang telah dewasa untuk membimbing anak dalam menggunakan kalimat/kosa kata yang paling tepat didalam menyampaikan suatu kata, berbicara bukanlah sekedar pengucapan kata/bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyampaikan dan menyatakan kata atau mengkomunikasi pikiran, ide-ide maupun suatu perasaan yang sedang dialami anak, contohnya sedih dan senang.
Disini akan membahas dua tipe perkembangan anak didalam berbicara, yaitu :
1. Egosentrie Speech
Terjadi pada anak berusia 2-3 tahun, dimana anak berbicara pada dirinya sendiri (monolog- mengoceh sendiri) pada saat main boneka.
2. Socialized Speech
Terjadi ketika anak sedang berinteraksi pada temannya dan didalam lingkungan. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi sosial anak. Berkenaan dengan hal tersebut terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu :
1) Saling tukar informasi untuk tujuan bersama
2) Penilaian terhadap ucapan/tingkah laku orang lain
3) Perintah, permintaan, ancaman
4) Pertanyaan
5) Jawaban
B. Tujuan Berbicara
Adapun tujuan dari berbicara yaitu untuk memberitahu, menghibur, melapor, membujuk, dan menyakinkan seseorang, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan dalam aspek kebahasan, yaitu :
1. Ketepatan ucapan (pelafalan)
2. Penekanan/penempatan nada dan durasi yang sesuai
3. Pemilihan kata
4. Ketepatan sasaran pembicaraan (tata krama)
Sedangkan faktor aspek non kebahasaan yaitu :
1. Sikap tubuh, pendangan, bahasa tubuh, mimic wajah yang tepat
2. Kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain.
3. Kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara
4. Relevansi, penalaran, dan penguasaan terhadap topic.
Hurlock mengemukakan 3 kriteria untuk mengukur kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar/sekedar membeo sebagai berikut :
1. Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkan dengan objek yang diwakili.
2. Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah.
3. Anak dapat memahami kata-kata tersebut, bukan karena telah sering mendengar/menduga-menduga.
Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa orang tua yang dilakukan dengan 2 cara yaitu secara spontan dan melalui penugasan dari orang dewasa untuk menirukan secara spontan bahasa orang dewasa dan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas.
Adapun beberapa cara orang dewasa mengajarkan bahasa bayi sebagai berikut :
1. Motherese, recasting (menyusun ulang).
2. Echoing (menggemakan)
3. Expanding (memperluaskan)
4. Labeling (memberi nama).
Motherese yaitu berbicara pada bayi dengan suatu frekuensi danØ hubungan yang lebih luas dan menggunakan kalimat yang sederhana.
Recasting yaitu suatu pengucapan makna/kalimat yang sama denganØ menggunakan cara yang berbeda contohnya : dengan mengubah suatu pertanyaan.
Echoing adalah mengulangi apa yang telah dikatakan anak, khususnya ungkapan/ucapan (bahasa) anak yang belum sempurna.
Expanding adalah menyatakan ulang apa telah dikatakan anak dalam bahasa yang baik untuk suatu kosa kata (ucapan).
Labeling adalah mengidentifkasi nama-nama benda.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu :
1. Tahap eksternal
Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris
Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3. Tahap Internal
Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, contohnya melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama jenis kelamin dan umurnya, menggunakan kata sambung seperti : dan, karena, tetapi.
Ada beberapa hal/cara belajar berbicara yang dapat dilakukan anak sebagai berikut :
1. Persiapan fisik untuk berbicara pada anak
Yaitu kemampuan berbicara tergantung pada mekanisme bicara anak tersebut. Pada saat lahir anak tersebut telah memiliki saluran kecil, langit-langit, mulut datar, dan lidah terlalu besar untuk saluran suara sebelum semua sarana itu mencapai bentuk yang lebih matang.
2. Kesiapan mental untuk berbicara pada anak
Yaitu kesiapan mental untuk berbicara tergantung pada kematangan otak, khususnya pada bagian-bagian asosiasi otak pada anak. Biasanya kesiapan tersebut berkembang pada saat anak berusia 12 dan 18 bulan dipandang dari segi aspek perkembangan bicara anak.
3. Model yang baik untuk ditiru oleh anak didalam proses bicara
Yaitu mengucapkan kata dengan betul dan kemudian menggabungkannya menjadi satu kalimat yang betul maka anak harus memiliki model bicara contohnya pada orang dewasa untuk ditiru dari percakapan/pelafasan yang benar/baik.
4. Kesempatan untuk berpraktek
Karena alas an apapun kesempatan berbicara dihilangkan jika mereka tidak dapat membuat orang lain mengerti dan mereka akan putus asa dan marah.
5. Bimbingan
Cara yang paling baik untuk membimbing belajar berbicara yaitu :
1) Menyediakan model yang baik
2) Mengatakan kata-kata dengan perlahan dan cukup jelas sehingga anak dapat memahaminya
3) Memberikan bantuan mengikuti model tersebut dengan membetulkan setiap kesalahan yang mungkin dibuat anak dalam meniru model tersebut.
C. Keterlambatan dan bahaya (gangguan) di dalam perkembangan bicara pada anak.
Apabila tingkat perkembangan bicara berada dibawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umumnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan di dalam kosa kata (bahasa) anak tersebut pada saat bersama teman sebayanya bercakap-cakap/berbicara menggunakan kata-kata terus dianggap muda diajak bermain dengan kata-kata.
Keterlambatan berbicara tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca pada awal anak masuk sekolah. Banyak penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya adalah rendahnya tingkat kecerdasan yang membuat anak tidak mungkin belajar berbicara sama baiknya seperti teman-teman sebayanya, yang kecerdasannya normal atau tinggi kurang motivasi karena anak mengetahui bahwa mereka dapat berkomunikasi secara memadai dengan bentuk prabicara dorongan orang tua/orang dewasa, terbatasnya kesempatan praktek berbicara karena ketatnya batasan tentang seberapa banyak mereka diperbolehkan berbicara dirumah.
Salah satu penyebab tidak diragukan lagi paling umum dan paling serius adalah ketidakmampuan mendorong/memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi) didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa kata yang baik dan benar.
Kekurangan dorongan tersebut merupakan penyebab serius keterlambatan berbicara anak terlihat dari fakta bahwa apabila orang tua tidak hanya berbicara kepada anak mereka tetapi juga menggunakan kosa kata yang lebih luas dan bervariasi, adapun kemampuan anak didalam berbicara yang berkembang sangat pesat dan cepat yaitu contohnya : anak-anak dari golongan yang lebih atau menengah yang orang tuanya ingin sekali menyuruh mereka (anak) belajar berbicara lebih awal (cepat) dan lebih baik. Sangat kurang kemungkinannya mengalami keterlambatan berbicara pada anak.
Sedangkan anak yang berasal dari golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak yaitu :
1. Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata
2. Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara
3. Sering kali berbicara yang tidak teratur
4. Tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.
D. Kesalahan yang umum didalam pengucapan/bahasa (berbicara) pada anak yaitu :
1. Menghilangkan satu suku kata/lebih biasanya terletak ditengah-tengah kata contohnya : “buttfly” padahal “butterfly”.
2. Mengganti huruf/suku kata seperti “tolly” padahal “Dolly”, “handakerchief” padahal “handkerchief”.
3. Menghilangkan huruf mati yang sulit untuk diucapkan oleh anak contohnya : z,w,s,d, dan g.
4. Huruf-huruf hidup khususnya O yang paling sulit dikatakan anak (diucapkan)
5. Singkatan gabungan huruf mati yang sulit diucapkan oleh anak contohnya : “st, sk, dr, fl, str”.
E. Bicara yang tidak disetujui anak secara sosial
Anak-anak yang pembicarannya tidak sesuai dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atau jelek. Pengaruhnya terhadap penyesuaian sosial dan pribadi mungkin merusak, lebih lanjut, jika percakapan dilakukan dengan cara yang tidak diterima secara sosial menjadi kebiasaan, maka hal itu akan terjadi hambatan-hambatan yang serius yang semakin berat setiap tahun. Adapun survey mengenai sebagian dari jangkauan pengaruh yang jauh dari bicara anak yang tidak diterima secara sosial menyoroti arti pentingnya sebagai berikut yaitu :
1. Anak yang berbicara paling banyak mengenai dirinya sendiri berarti lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Dengan demikian bicara egosentrik bukanlah pola perilaku yang terpisah melainkan, hal itu merupakan sindrom egosentrisme, sebaiknya hanya karena anak berbicara mengenai orang dan hal-hal lain tidak lantas berarti bahwa mereka akan membicarakan dengan caranya sendiri dan dapat menimbulkan penyesuaian sosial yang baik, contohnya : anak suka membual “bohong”.
Bualan juga mempengaruhi penyesuaian pribadi anak, pada waktu kemampuan penalaran mereka meningkat, anak tersebut menyadari adanya jurang pemisah antara apa yang mereka katakana tentang dirinya sendiri dan siapa mereka sesungguhnya. Untuk memperkecil ketidakpuasan diri dan perasaan anak tersebut mencari penyebab/kesalahan-kesalahan.
2. Kritik dalam bentuk suatu komentar yang merendahkan dan meninggikan ego anak tersebut, tetapi hal tersebut berarti merendahkan ego yang dikritik, menyinggung perasaan orang dan memutuskan persahabatan. Dalam keluarga kritik yaitu salah satu penyebab memburuknya hubungan keluarga pada waktu anak bertambah besar. Orang tua dan saudara yang lebih tua memandang kritik (komentar) kurang diterima oleh orang tua malah dianggap kurang ajar dan yang terjadi malahan pertengkaran yang membuat hubungan antara ortu dengan anak memburuk.
3. Sikap yang terlalu sinis/suka berkelahi merugikan bagi anak maupun bagi mereka yang dituju oleh sikap seperti itu anak tidak hanya menciptakan kebiasaan bicara yang akan menimbulkan penolakan sosial yang disertai dh kerusakan psikologis, tetapi juga menimbulkan konsep keangkuhan yang menyimpang pada/tentang suatu yang tidak baik dilakukan terhadap orang lain, anak yang merasa terpukul karena komentar tersebut bertanya-tanya apakah mereka mengganggu/tidak mampu orang tersebut.
4. Anak dapat terpukul secara permanen oleh kritik yang dilontarkan anak berulang-ulang kali, sebagai contoh “kompleks rasa rendah hati/diri anak” sebagian besar disebabkan oleh kritik dan komentar yang dilontarkan terhadap anak.
Anak baik laki-laki maupun perempuan dan teman sekelasnya, semakin penting orang yang mengkritik anak, semakin besar pengaruh kritiknya.
Ada beberapa anak bicaranya tidak sebanyak yang diinginkan karena selalu dicuekkan (cemooh) oleh teman-teman dan orang dewasa yang berhubungan dengan ucapan-ucapan yang lucu, karena anak tersebut berbicara dengan menggunakan 2 bahasa/karena isi pembicarannya bersifat tidak sosial. Sehingga cuekkan, kalaupun anak yang lain menemukkan bahwa ia mencoba menguasai pembicaraan maka hal ini akan menyebabkan suatu penolakan yang sosial, sehingga anak mengekang keinginannya untuk berbicara.
F. Faktor-faktor yang mempengaruhi anak berbicara
Awal masa kanak-kanak terkena sebagai masa tukang ngobrol, karena sering kali anak dapat berbicara dengan mudah tidak terputus-putus bicaranya. Adapun faktor-faktor yang terpenting didalam anak banyak bicara yaitu :
1. Inteligensi
Yaitu semakin cerdas (pintar) anak, semakin cepat anak menguasai keterampilan berbicara.
2. Jenis disiplin
Yaitu anak-anak yang cenderung dibesarkan dengan cara disiplin lebih banyak bicaranya ketimbang pada suatu kekerasan.
3. Posisi urutan
Yaitu anak sulung cenderung/didorong ortu untuk banyak berbicara daripada adiknya.
4. Besarnya keluarga
5. Status sosial ekonomi
6. Status ras
7. Berbahasa dua
8. Penggolongan peran seks
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Perkembangan bicara anak tergantung pada tumbuh kembang ucapan (pelafasan) bicara anak tersebut. Didalam pembelajaran bicara pada anak usia dini orang tua sangat berperan penting, karena tanpa bantuan dari orang tua/dewasa anak tidak akan bisa berbicara/celoteh (ocehan).
Adapun maksud dari tujuan perkembangan bicara anak untuk melatih/mengucapkan kata-kata/kosa kata, contohnya “mam” maksud disini anak tersebut bilang “makan”. Karena adanya dampak keterlambatan bicara/gangguan bicara anak terpengaruh dari lingkungan tempat tinggal anak tersebut dan kurangnya pola asuh dari orang tua untuk mempelajari/mengajari anak untuk berbicara, jadinya anak lamban untuk berbicara (ngeloceh/celoteh) dan terpengaruh dari sosial yang anak tidak sukai oleh anak.
III.2 Saran
Bagi seorang guru/orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak usia dini didalam berbicara dengan baik, karena berbicara yang baik untuk diajari kepada anak sangatlah susah didalam menyebutkan kosa kata/pengucapan dengan sempurna kepada anak didalam perkembangan bicara.
DAFTAR PUSTAKA
Perkembangan Anak, Elizabet B. Hurlock
Perkembangan Anak, Internet
Psikologi Perkembangan, Elizabet B. Hurlock
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti : biologis, kognitif dan emosional.
Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti) sinfaksis (tata bahasa). Dengan bahasa anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaan pada orang lain.
Menurut Owens (dalam papalia et al, 1990), mengemukakan bahwa anak usia dini dapat menggunakan past mapping yaitu suatu proses dimana anak dapat menyerap arti kata baru setelah mendengarkan sekali atau dua kali di dalam percakapan/suatu kalimat yang berbentuk kalimat pertanyaan, negative dan perintah.
Perkembangan berbicara dan menulis merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti. Perkembangan berbicara pada awal dari anak yaitu menggumam maupun membeo, sedangkan perkembangan menulis pada anak berawal dari kegiatan mencoret-coret sebagai hasil ekspresi anak.
Menurut pendapat Dyson bahwa perkembangan berbicara terkadang individu dapat menyesuaikan dengan keinginannya sendiri, hal ini tidak sama dengan menulis. Pada anak dan ingin mengetahui seberapa besar keterlambatan bicara pada anak dan ada gangguan-gangguan yang telah dialami anak tersebut didalam berbicara/berbahasa anak.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Perkembangan Berbicara Pada Anak
Ketika anak tumbuh dan berkembang terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan). Produk bahasanya secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekpresikan mimic wajah dengan cara berkomunikasi.
Alat komunikasi berbicara pada anak menggunakan gerakkan dan tanda isyarat untuk menunjukkan keinginannya secara bertahap dan berkembang menjadi suatu komunikasi melalui ajaran yang tepat dan jelas. Hal ini dapat terlihat sejak awal perkembangan dimana bayi mengeluarkan suara “ocehan” yang kemudian menjadi system symbol bunyi yang bermakna.
Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi system bunyi dalam bahasa bagian terkecil dari system bunyi tersebut dikenal dengan nama fonem yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga 1 tahun. Sedangkan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa. Bagian terkecil dari bahasa tersebut dikenal dengan istilah morfem sebagai contoh anak yang masih kecil mengucapkan kalimat “mam” yang artinya “makan”.
Perkembangan sinteksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai dengan aturan yang menghasilkan suatu pemikiran dan kalimat yang utuh. Pada dua tahun pertama anak tidak melibatkan kata sandang, sifat maupun kata keterangan didalam berkomunikasi. Dengan bertambahnya usia anak seiring dengan perkembangan didalam berbahasa mulai melibatkan komponen ponologi maupun morpologi lebih banyak perbendaharaan/mengucapkan 3-4 kosa kata. Ketika anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang anak yang menggunakan intonasi didalam menanyakan suatu informasi dengan memberikan penekanan pada kalimat seperti “makan ayam”, “kakak sekolah”.
Bocoler and linke (1996) memberikan suatu gambar tentang kemampuan berbahasa anak usia 3-5 tahun. Pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak kosa kata dan tanda Tanya “apa”, “siapa”, sedangkan pada usia 4 tahun anak mulai pandai bercakap-cakap, seperti member nama usia, alamat, dan sudah mulai memahami waktu. Adapun beberapa aturan didalam menggunakan bahasa yang tepat pada waktu/situasi sosial yang berbeda. Seorang anak dapat dikatakan memiliki suatu kompetensi berkomunikasi ketika telah memahami penggunaan bahasa yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Didalam hal ini anak perlu/membutuhkan suatu bimbingan dari orang yang telah dewasa untuk membimbing anak dalam menggunakan kalimat/kosa kata yang paling tepat didalam menyampaikan suatu kata, berbicara bukanlah sekedar pengucapan kata/bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyampaikan dan menyatakan kata atau mengkomunikasi pikiran, ide-ide maupun suatu perasaan yang sedang dialami anak, contohnya sedih dan senang.
Disini akan membahas dua tipe perkembangan anak didalam berbicara, yaitu :
1. Egosentrie Speech
Terjadi pada anak berusia 2-3 tahun, dimana anak berbicara pada dirinya sendiri (monolog- mengoceh sendiri) pada saat main boneka.
2. Socialized Speech
Terjadi ketika anak sedang berinteraksi pada temannya dan didalam lingkungan. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi sosial anak. Berkenaan dengan hal tersebut terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu :
1) Saling tukar informasi untuk tujuan bersama
2) Penilaian terhadap ucapan/tingkah laku orang lain
3) Perintah, permintaan, ancaman
4) Pertanyaan
5) Jawaban
B. Tujuan Berbicara
Adapun tujuan dari berbicara yaitu untuk memberitahu, menghibur, melapor, membujuk, dan menyakinkan seseorang, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan dalam aspek kebahasan, yaitu :
1. Ketepatan ucapan (pelafalan)
2. Penekanan/penempatan nada dan durasi yang sesuai
3. Pemilihan kata
4. Ketepatan sasaran pembicaraan (tata krama)
Sedangkan faktor aspek non kebahasaan yaitu :
1. Sikap tubuh, pendangan, bahasa tubuh, mimic wajah yang tepat
2. Kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain.
3. Kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara
4. Relevansi, penalaran, dan penguasaan terhadap topic.
Hurlock mengemukakan 3 kriteria untuk mengukur kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar/sekedar membeo sebagai berikut :
1. Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkan dengan objek yang diwakili.
2. Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah.
3. Anak dapat memahami kata-kata tersebut, bukan karena telah sering mendengar/menduga-menduga.
Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa orang tua yang dilakukan dengan 2 cara yaitu secara spontan dan melalui penugasan dari orang dewasa untuk menirukan secara spontan bahasa orang dewasa dan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas.
Adapun beberapa cara orang dewasa mengajarkan bahasa bayi sebagai berikut :
1. Motherese, recasting (menyusun ulang).
2. Echoing (menggemakan)
3. Expanding (memperluaskan)
4. Labeling (memberi nama).
Motherese yaitu berbicara pada bayi dengan suatu frekuensi danØ hubungan yang lebih luas dan menggunakan kalimat yang sederhana.
Recasting yaitu suatu pengucapan makna/kalimat yang sama denganØ menggunakan cara yang berbeda contohnya : dengan mengubah suatu pertanyaan.
Echoing adalah mengulangi apa yang telah dikatakan anak, khususnya ungkapan/ucapan (bahasa) anak yang belum sempurna.
Expanding adalah menyatakan ulang apa telah dikatakan anak dalam bahasa yang baik untuk suatu kosa kata (ucapan).
Labeling adalah mengidentifkasi nama-nama benda.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu :
1. Tahap eksternal
Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris
Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3. Tahap Internal
Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, contohnya melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama jenis kelamin dan umurnya, menggunakan kata sambung seperti : dan, karena, tetapi.
Ada beberapa hal/cara belajar berbicara yang dapat dilakukan anak sebagai berikut :
1. Persiapan fisik untuk berbicara pada anak
Yaitu kemampuan berbicara tergantung pada mekanisme bicara anak tersebut. Pada saat lahir anak tersebut telah memiliki saluran kecil, langit-langit, mulut datar, dan lidah terlalu besar untuk saluran suara sebelum semua sarana itu mencapai bentuk yang lebih matang.
2. Kesiapan mental untuk berbicara pada anak
Yaitu kesiapan mental untuk berbicara tergantung pada kematangan otak, khususnya pada bagian-bagian asosiasi otak pada anak. Biasanya kesiapan tersebut berkembang pada saat anak berusia 12 dan 18 bulan dipandang dari segi aspek perkembangan bicara anak.
3. Model yang baik untuk ditiru oleh anak didalam proses bicara
Yaitu mengucapkan kata dengan betul dan kemudian menggabungkannya menjadi satu kalimat yang betul maka anak harus memiliki model bicara contohnya pada orang dewasa untuk ditiru dari percakapan/pelafasan yang benar/baik.
4. Kesempatan untuk berpraktek
Karena alas an apapun kesempatan berbicara dihilangkan jika mereka tidak dapat membuat orang lain mengerti dan mereka akan putus asa dan marah.
5. Bimbingan
Cara yang paling baik untuk membimbing belajar berbicara yaitu :
1) Menyediakan model yang baik
2) Mengatakan kata-kata dengan perlahan dan cukup jelas sehingga anak dapat memahaminya
3) Memberikan bantuan mengikuti model tersebut dengan membetulkan setiap kesalahan yang mungkin dibuat anak dalam meniru model tersebut.
C. Keterlambatan dan bahaya (gangguan) di dalam perkembangan bicara pada anak.
Apabila tingkat perkembangan bicara berada dibawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umumnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan di dalam kosa kata (bahasa) anak tersebut pada saat bersama teman sebayanya bercakap-cakap/berbicara menggunakan kata-kata terus dianggap muda diajak bermain dengan kata-kata.
Keterlambatan berbicara tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca pada awal anak masuk sekolah. Banyak penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya adalah rendahnya tingkat kecerdasan yang membuat anak tidak mungkin belajar berbicara sama baiknya seperti teman-teman sebayanya, yang kecerdasannya normal atau tinggi kurang motivasi karena anak mengetahui bahwa mereka dapat berkomunikasi secara memadai dengan bentuk prabicara dorongan orang tua/orang dewasa, terbatasnya kesempatan praktek berbicara karena ketatnya batasan tentang seberapa banyak mereka diperbolehkan berbicara dirumah.
Salah satu penyebab tidak diragukan lagi paling umum dan paling serius adalah ketidakmampuan mendorong/memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi) didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa kata yang baik dan benar.
Kekurangan dorongan tersebut merupakan penyebab serius keterlambatan berbicara anak terlihat dari fakta bahwa apabila orang tua tidak hanya berbicara kepada anak mereka tetapi juga menggunakan kosa kata yang lebih luas dan bervariasi, adapun kemampuan anak didalam berbicara yang berkembang sangat pesat dan cepat yaitu contohnya : anak-anak dari golongan yang lebih atau menengah yang orang tuanya ingin sekali menyuruh mereka (anak) belajar berbicara lebih awal (cepat) dan lebih baik. Sangat kurang kemungkinannya mengalami keterlambatan berbicara pada anak.
Sedangkan anak yang berasal dari golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak yaitu :
1. Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata
2. Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara
3. Sering kali berbicara yang tidak teratur
4. Tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.
D. Kesalahan yang umum didalam pengucapan/bahasa (berbicara) pada anak yaitu :
1. Menghilangkan satu suku kata/lebih biasanya terletak ditengah-tengah kata contohnya : “buttfly” padahal “butterfly”.
2. Mengganti huruf/suku kata seperti “tolly” padahal “Dolly”, “handakerchief” padahal “handkerchief”.
3. Menghilangkan huruf mati yang sulit untuk diucapkan oleh anak contohnya : z,w,s,d, dan g.
4. Huruf-huruf hidup khususnya O yang paling sulit dikatakan anak (diucapkan)
5. Singkatan gabungan huruf mati yang sulit diucapkan oleh anak contohnya : “st, sk, dr, fl, str”.
E. Bicara yang tidak disetujui anak secara sosial
Anak-anak yang pembicarannya tidak sesuai dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atau jelek. Pengaruhnya terhadap penyesuaian sosial dan pribadi mungkin merusak, lebih lanjut, jika percakapan dilakukan dengan cara yang tidak diterima secara sosial menjadi kebiasaan, maka hal itu akan terjadi hambatan-hambatan yang serius yang semakin berat setiap tahun. Adapun survey mengenai sebagian dari jangkauan pengaruh yang jauh dari bicara anak yang tidak diterima secara sosial menyoroti arti pentingnya sebagai berikut yaitu :
1. Anak yang berbicara paling banyak mengenai dirinya sendiri berarti lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Dengan demikian bicara egosentrik bukanlah pola perilaku yang terpisah melainkan, hal itu merupakan sindrom egosentrisme, sebaiknya hanya karena anak berbicara mengenai orang dan hal-hal lain tidak lantas berarti bahwa mereka akan membicarakan dengan caranya sendiri dan dapat menimbulkan penyesuaian sosial yang baik, contohnya : anak suka membual “bohong”.
Bualan juga mempengaruhi penyesuaian pribadi anak, pada waktu kemampuan penalaran mereka meningkat, anak tersebut menyadari adanya jurang pemisah antara apa yang mereka katakana tentang dirinya sendiri dan siapa mereka sesungguhnya. Untuk memperkecil ketidakpuasan diri dan perasaan anak tersebut mencari penyebab/kesalahan-kesalahan.
2. Kritik dalam bentuk suatu komentar yang merendahkan dan meninggikan ego anak tersebut, tetapi hal tersebut berarti merendahkan ego yang dikritik, menyinggung perasaan orang dan memutuskan persahabatan. Dalam keluarga kritik yaitu salah satu penyebab memburuknya hubungan keluarga pada waktu anak bertambah besar. Orang tua dan saudara yang lebih tua memandang kritik (komentar) kurang diterima oleh orang tua malah dianggap kurang ajar dan yang terjadi malahan pertengkaran yang membuat hubungan antara ortu dengan anak memburuk.
3. Sikap yang terlalu sinis/suka berkelahi merugikan bagi anak maupun bagi mereka yang dituju oleh sikap seperti itu anak tidak hanya menciptakan kebiasaan bicara yang akan menimbulkan penolakan sosial yang disertai dh kerusakan psikologis, tetapi juga menimbulkan konsep keangkuhan yang menyimpang pada/tentang suatu yang tidak baik dilakukan terhadap orang lain, anak yang merasa terpukul karena komentar tersebut bertanya-tanya apakah mereka mengganggu/tidak mampu orang tersebut.
4. Anak dapat terpukul secara permanen oleh kritik yang dilontarkan anak berulang-ulang kali, sebagai contoh “kompleks rasa rendah hati/diri anak” sebagian besar disebabkan oleh kritik dan komentar yang dilontarkan terhadap anak.
Anak baik laki-laki maupun perempuan dan teman sekelasnya, semakin penting orang yang mengkritik anak, semakin besar pengaruh kritiknya.
Ada beberapa anak bicaranya tidak sebanyak yang diinginkan karena selalu dicuekkan (cemooh) oleh teman-teman dan orang dewasa yang berhubungan dengan ucapan-ucapan yang lucu, karena anak tersebut berbicara dengan menggunakan 2 bahasa/karena isi pembicarannya bersifat tidak sosial. Sehingga cuekkan, kalaupun anak yang lain menemukkan bahwa ia mencoba menguasai pembicaraan maka hal ini akan menyebabkan suatu penolakan yang sosial, sehingga anak mengekang keinginannya untuk berbicara.
F. Faktor-faktor yang mempengaruhi anak berbicara
Awal masa kanak-kanak terkena sebagai masa tukang ngobrol, karena sering kali anak dapat berbicara dengan mudah tidak terputus-putus bicaranya. Adapun faktor-faktor yang terpenting didalam anak banyak bicara yaitu :
1. Inteligensi
Yaitu semakin cerdas (pintar) anak, semakin cepat anak menguasai keterampilan berbicara.
2. Jenis disiplin
Yaitu anak-anak yang cenderung dibesarkan dengan cara disiplin lebih banyak bicaranya ketimbang pada suatu kekerasan.
3. Posisi urutan
Yaitu anak sulung cenderung/didorong ortu untuk banyak berbicara daripada adiknya.
4. Besarnya keluarga
5. Status sosial ekonomi
6. Status ras
7. Berbahasa dua
8. Penggolongan peran seks
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Perkembangan bicara anak tergantung pada tumbuh kembang ucapan (pelafasan) bicara anak tersebut. Didalam pembelajaran bicara pada anak usia dini orang tua sangat berperan penting, karena tanpa bantuan dari orang tua/dewasa anak tidak akan bisa berbicara/celoteh (ocehan).
Adapun maksud dari tujuan perkembangan bicara anak untuk melatih/mengucapkan kata-kata/kosa kata, contohnya “mam” maksud disini anak tersebut bilang “makan”. Karena adanya dampak keterlambatan bicara/gangguan bicara anak terpengaruh dari lingkungan tempat tinggal anak tersebut dan kurangnya pola asuh dari orang tua untuk mempelajari/mengajari anak untuk berbicara, jadinya anak lamban untuk berbicara (ngeloceh/celoteh) dan terpengaruh dari sosial yang anak tidak sukai oleh anak.
III.2 Saran
Bagi seorang guru/orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak usia dini didalam berbicara dengan baik, karena berbicara yang baik untuk diajari kepada anak sangatlah susah didalam menyebutkan kosa kata/pengucapan dengan sempurna kepada anak didalam perkembangan bicara.
DAFTAR PUSTAKA
Perkembangan Anak, Elizabet B. Hurlock
Perkembangan Anak, Internet
Psikologi Perkembangan, Elizabet B. Hurlock
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti : biologis, kognitif dan emosional.
Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti) sinfaksis (tata bahasa). Dengan bahasa anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaan pada orang lain.
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti : biologis, kognitif dan emosional.
Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti) sinfaksis (tata bahasa). Dengan bahasa anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaan pada orang lain.
Menurut Owens (dalam papalia et al, 1990), mengemukakan bahwa anak usia dini dapat menggunakan past mapping yaitu suatu proses dimana anak dapat menyerap arti kata baru setelah mendengarkan sekali atau dua kali di dalam percakapan/suatu kalimat yang berbentuk kalimat pertanyaan, negative dan perintah.
Perkembangan berbicara dan menulis merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti. Perkembangan berbicara pada awal dari anak yaitu menggumam maupun membeo, sedangkan perkembangan menulis pada anak berawal dari kegiatan mencoret-coret sebagai hasil ekspresi anak.
Menurut pendapat Dyson bahwa perkembangan berbicara terkadang individu dapat menyesuaikan dengan keinginannya sendiri, hal ini tidak sama dengan menulis. Pada anak dan ingin mengetahui seberapa besar keterlambatan bicara pada anak dan ada gangguan-gangguan yang telah dialami anak tersebut didalam berbicara/berbahasa anak.
Perkembangan berbicara dan menulis merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti. Perkembangan berbicara pada awal dari anak yaitu menggumam maupun membeo, sedangkan perkembangan menulis pada anak berawal dari kegiatan mencoret-coret sebagai hasil ekspresi anak.
Menurut pendapat Dyson bahwa perkembangan berbicara terkadang individu dapat menyesuaikan dengan keinginannya sendiri, hal ini tidak sama dengan menulis. Pada anak dan ingin mengetahui seberapa besar keterlambatan bicara pada anak dan ada gangguan-gangguan yang telah dialami anak tersebut didalam berbicara/berbahasa anak.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Perkembangan Berbicara Pada Anak
Ketika anak tumbuh dan berkembang terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan). Produk bahasanya secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekpresikan mimic wajah dengan cara berkomunikasi.
Ketika anak tumbuh dan berkembang terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan). Produk bahasanya secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekpresikan mimic wajah dengan cara berkomunikasi.
Alat komunikasi berbicara pada anak menggunakan gerakkan dan tanda isyarat untuk menunjukkan keinginannya secara bertahap dan berkembang menjadi suatu komunikasi melalui ajaran yang tepat dan jelas. Hal ini dapat terlihat sejak awal perkembangan dimana bayi mengeluarkan suara “ocehan” yang kemudian menjadi system symbol bunyi yang bermakna.
Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi system bunyi dalam bahasa bagian terkecil dari system bunyi tersebut dikenal dengan nama fonem yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga 1 tahun. Sedangkan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa. Bagian terkecil dari bahasa tersebut dikenal dengan istilah morfem sebagai contoh anak yang masih kecil mengucapkan kalimat “mam” yang artinya “makan”.
Perkembangan sinteksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai dengan aturan yang menghasilkan suatu pemikiran dan kalimat yang utuh. Pada dua tahun pertama anak tidak melibatkan kata sandang, sifat maupun kata keterangan didalam berkomunikasi. Dengan bertambahnya usia anak seiring dengan perkembangan didalam berbahasa mulai melibatkan komponen ponologi maupun morpologi lebih banyak perbendaharaan/mengucapkan 3-4 kosa kata. Ketika anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang anak yang menggunakan intonasi didalam menanyakan suatu informasi dengan memberikan penekanan pada kalimat seperti “makan ayam”, “kakak sekolah”.
Bocoler and linke (1996) memberikan suatu gambar tentang kemampuan berbahasa anak usia 3-5 tahun. Pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak kosa kata dan tanda Tanya “apa”, “siapa”, sedangkan pada usia 4 tahun anak mulai pandai bercakap-cakap, seperti member nama usia, alamat, dan sudah mulai memahami waktu. Adapun beberapa aturan didalam menggunakan bahasa yang tepat pada waktu/situasi sosial yang berbeda. Seorang anak dapat dikatakan memiliki suatu kompetensi berkomunikasi ketika telah memahami penggunaan bahasa yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Didalam hal ini anak perlu/membutuhkan suatu bimbingan dari orang yang telah dewasa untuk membimbing anak dalam menggunakan kalimat/kosa kata yang paling tepat didalam menyampaikan suatu kata, berbicara bukanlah sekedar pengucapan kata/bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyampaikan dan menyatakan kata atau mengkomunikasi pikiran, ide-ide maupun suatu perasaan yang sedang dialami anak, contohnya sedih dan senang.
Disini akan membahas dua tipe perkembangan anak didalam berbicara, yaitu :
1. Egosentrie Speech
Terjadi pada anak berusia 2-3 tahun, dimana anak berbicara pada dirinya sendiri (monolog- mengoceh sendiri) pada saat main boneka.
2. Socialized Speech
Terjadi ketika anak sedang berinteraksi pada temannya dan didalam lingkungan. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi sosial anak. Berkenaan dengan hal tersebut terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu :
1) Saling tukar informasi untuk tujuan bersama
2) Penilaian terhadap ucapan/tingkah laku orang lain
3) Perintah, permintaan, ancaman
4) Pertanyaan
5) Jawaban
B. Tujuan Berbicara
Adapun tujuan dari berbicara yaitu untuk memberitahu, menghibur, melapor, membujuk, dan menyakinkan seseorang, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan dalam aspek kebahasan, yaitu :
1. Ketepatan ucapan (pelafalan)
2. Penekanan/penempatan nada dan durasi yang sesuai
3. Pemilihan kata
4. Ketepatan sasaran pembicaraan (tata krama)
Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi system bunyi dalam bahasa bagian terkecil dari system bunyi tersebut dikenal dengan nama fonem yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga 1 tahun. Sedangkan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa. Bagian terkecil dari bahasa tersebut dikenal dengan istilah morfem sebagai contoh anak yang masih kecil mengucapkan kalimat “mam” yang artinya “makan”.
Perkembangan sinteksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai dengan aturan yang menghasilkan suatu pemikiran dan kalimat yang utuh. Pada dua tahun pertama anak tidak melibatkan kata sandang, sifat maupun kata keterangan didalam berkomunikasi. Dengan bertambahnya usia anak seiring dengan perkembangan didalam berbahasa mulai melibatkan komponen ponologi maupun morpologi lebih banyak perbendaharaan/mengucapkan 3-4 kosa kata. Ketika anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang anak yang menggunakan intonasi didalam menanyakan suatu informasi dengan memberikan penekanan pada kalimat seperti “makan ayam”, “kakak sekolah”.
Bocoler and linke (1996) memberikan suatu gambar tentang kemampuan berbahasa anak usia 3-5 tahun. Pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak kosa kata dan tanda Tanya “apa”, “siapa”, sedangkan pada usia 4 tahun anak mulai pandai bercakap-cakap, seperti member nama usia, alamat, dan sudah mulai memahami waktu. Adapun beberapa aturan didalam menggunakan bahasa yang tepat pada waktu/situasi sosial yang berbeda. Seorang anak dapat dikatakan memiliki suatu kompetensi berkomunikasi ketika telah memahami penggunaan bahasa yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Didalam hal ini anak perlu/membutuhkan suatu bimbingan dari orang yang telah dewasa untuk membimbing anak dalam menggunakan kalimat/kosa kata yang paling tepat didalam menyampaikan suatu kata, berbicara bukanlah sekedar pengucapan kata/bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyampaikan dan menyatakan kata atau mengkomunikasi pikiran, ide-ide maupun suatu perasaan yang sedang dialami anak, contohnya sedih dan senang.
Disini akan membahas dua tipe perkembangan anak didalam berbicara, yaitu :
1. Egosentrie Speech
Terjadi pada anak berusia 2-3 tahun, dimana anak berbicara pada dirinya sendiri (monolog- mengoceh sendiri) pada saat main boneka.
2. Socialized Speech
Terjadi ketika anak sedang berinteraksi pada temannya dan didalam lingkungan. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi sosial anak. Berkenaan dengan hal tersebut terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu :
1) Saling tukar informasi untuk tujuan bersama
2) Penilaian terhadap ucapan/tingkah laku orang lain
3) Perintah, permintaan, ancaman
4) Pertanyaan
5) Jawaban
B. Tujuan Berbicara
Adapun tujuan dari berbicara yaitu untuk memberitahu, menghibur, melapor, membujuk, dan menyakinkan seseorang, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan dalam aspek kebahasan, yaitu :
1. Ketepatan ucapan (pelafalan)
2. Penekanan/penempatan nada dan durasi yang sesuai
3. Pemilihan kata
4. Ketepatan sasaran pembicaraan (tata krama)
Sedangkan faktor aspek non kebahasaan yaitu :
1. Sikap tubuh, pendangan, bahasa tubuh, mimic wajah yang tepat
2. Kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain.
3. Kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara
4. Relevansi, penalaran, dan penguasaan terhadap topic.
Hurlock mengemukakan 3 kriteria untuk mengukur kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar/sekedar membeo sebagai berikut :
1. Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkan dengan objek yang diwakili.
2. Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah.
3. Anak dapat memahami kata-kata tersebut, bukan karena telah sering mendengar/menduga-menduga.
Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa orang tua yang dilakukan dengan 2 cara yaitu secara spontan dan melalui penugasan dari orang dewasa untuk menirukan secara spontan bahasa orang dewasa dan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas.
1. Sikap tubuh, pendangan, bahasa tubuh, mimic wajah yang tepat
2. Kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain.
3. Kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara
4. Relevansi, penalaran, dan penguasaan terhadap topic.
Hurlock mengemukakan 3 kriteria untuk mengukur kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar/sekedar membeo sebagai berikut :
1. Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkan dengan objek yang diwakili.
2. Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah.
3. Anak dapat memahami kata-kata tersebut, bukan karena telah sering mendengar/menduga-menduga.
Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa orang tua yang dilakukan dengan 2 cara yaitu secara spontan dan melalui penugasan dari orang dewasa untuk menirukan secara spontan bahasa orang dewasa dan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas.
Adapun beberapa cara orang dewasa mengajarkan bahasa bayi sebagai berikut :
1. Motherese, recasting (menyusun ulang).
2. Echoing (menggemakan)
3. Expanding (memperluaskan)
4. Labeling (memberi nama).
Motherese yaitu berbicara pada bayi dengan suatu frekuensi danØ hubungan yang lebih luas dan menggunakan kalimat yang sederhana.
Recasting yaitu suatu pengucapan makna/kalimat yang sama denganØ menggunakan cara yang berbeda contohnya : dengan mengubah suatu pertanyaan.
Echoing adalah mengulangi apa yang telah dikatakan anak, khususnya ungkapan/ucapan (bahasa) anak yang belum sempurna.
Expanding adalah menyatakan ulang apa telah dikatakan anak dalam bahasa yang baik untuk suatu kosa kata (ucapan).
Labeling adalah mengidentifkasi nama-nama benda.
1. Motherese, recasting (menyusun ulang).
2. Echoing (menggemakan)
3. Expanding (memperluaskan)
4. Labeling (memberi nama).
Motherese yaitu berbicara pada bayi dengan suatu frekuensi danØ hubungan yang lebih luas dan menggunakan kalimat yang sederhana.
Recasting yaitu suatu pengucapan makna/kalimat yang sama denganØ menggunakan cara yang berbeda contohnya : dengan mengubah suatu pertanyaan.
Echoing adalah mengulangi apa yang telah dikatakan anak, khususnya ungkapan/ucapan (bahasa) anak yang belum sempurna.
Expanding adalah menyatakan ulang apa telah dikatakan anak dalam bahasa yang baik untuk suatu kosa kata (ucapan).
Labeling adalah mengidentifkasi nama-nama benda.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu :
1. Tahap eksternal
Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris
Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3. Tahap Internal
Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
1. Tahap eksternal
Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris
Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3. Tahap Internal
Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, contohnya melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama jenis kelamin dan umurnya, menggunakan kata sambung seperti : dan, karena, tetapi.
Ada beberapa hal/cara belajar berbicara yang dapat dilakukan anak sebagai berikut :
1. Persiapan fisik untuk berbicara pada anak
Yaitu kemampuan berbicara tergantung pada mekanisme bicara anak tersebut. Pada saat lahir anak tersebut telah memiliki saluran kecil, langit-langit, mulut datar, dan lidah terlalu besar untuk saluran suara sebelum semua sarana itu mencapai bentuk yang lebih matang.
2. Kesiapan mental untuk berbicara pada anak
Yaitu kesiapan mental untuk berbicara tergantung pada kematangan otak, khususnya pada bagian-bagian asosiasi otak pada anak. Biasanya kesiapan tersebut berkembang pada saat anak berusia 12 dan 18 bulan dipandang dari segi aspek perkembangan bicara anak.
3. Model yang baik untuk ditiru oleh anak didalam proses bicara
Yaitu mengucapkan kata dengan betul dan kemudian menggabungkannya menjadi satu kalimat yang betul maka anak harus memiliki model bicara contohnya pada orang dewasa untuk ditiru dari percakapan/pelafasan yang benar/baik.
4. Kesempatan untuk berpraktek
Karena alas an apapun kesempatan berbicara dihilangkan jika mereka tidak dapat membuat orang lain mengerti dan mereka akan putus asa dan marah.
5. Bimbingan
Ada beberapa hal/cara belajar berbicara yang dapat dilakukan anak sebagai berikut :
1. Persiapan fisik untuk berbicara pada anak
Yaitu kemampuan berbicara tergantung pada mekanisme bicara anak tersebut. Pada saat lahir anak tersebut telah memiliki saluran kecil, langit-langit, mulut datar, dan lidah terlalu besar untuk saluran suara sebelum semua sarana itu mencapai bentuk yang lebih matang.
2. Kesiapan mental untuk berbicara pada anak
Yaitu kesiapan mental untuk berbicara tergantung pada kematangan otak, khususnya pada bagian-bagian asosiasi otak pada anak. Biasanya kesiapan tersebut berkembang pada saat anak berusia 12 dan 18 bulan dipandang dari segi aspek perkembangan bicara anak.
3. Model yang baik untuk ditiru oleh anak didalam proses bicara
Yaitu mengucapkan kata dengan betul dan kemudian menggabungkannya menjadi satu kalimat yang betul maka anak harus memiliki model bicara contohnya pada orang dewasa untuk ditiru dari percakapan/pelafasan yang benar/baik.
4. Kesempatan untuk berpraktek
Karena alas an apapun kesempatan berbicara dihilangkan jika mereka tidak dapat membuat orang lain mengerti dan mereka akan putus asa dan marah.
5. Bimbingan
Cara yang paling baik untuk membimbing belajar berbicara yaitu :
1) Menyediakan model yang baik
2) Mengatakan kata-kata dengan perlahan dan cukup jelas sehingga anak dapat memahaminya
3) Memberikan bantuan mengikuti model tersebut dengan membetulkan setiap kesalahan yang mungkin dibuat anak dalam meniru model tersebut.
1) Menyediakan model yang baik
2) Mengatakan kata-kata dengan perlahan dan cukup jelas sehingga anak dapat memahaminya
3) Memberikan bantuan mengikuti model tersebut dengan membetulkan setiap kesalahan yang mungkin dibuat anak dalam meniru model tersebut.
C. Keterlambatan dan bahaya (gangguan) di dalam perkembangan bicara pada anak.
Apabila tingkat perkembangan bicara berada dibawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umumnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan di dalam kosa kata (bahasa) anak tersebut pada saat bersama teman sebayanya bercakap-cakap/berbicara menggunakan kata-kata terus dianggap muda diajak bermain dengan kata-kata.
Keterlambatan berbicara tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca pada awal anak masuk sekolah. Banyak penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya adalah rendahnya tingkat kecerdasan yang membuat anak tidak mungkin belajar berbicara sama baiknya seperti teman-teman sebayanya, yang kecerdasannya normal atau tinggi kurang motivasi karena anak mengetahui bahwa mereka dapat berkomunikasi secara memadai dengan bentuk prabicara dorongan orang tua/orang dewasa, terbatasnya kesempatan praktek berbicara karena ketatnya batasan tentang seberapa banyak mereka diperbolehkan berbicara dirumah.
Salah satu penyebab tidak diragukan lagi paling umum dan paling serius adalah ketidakmampuan mendorong/memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi) didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa kata yang baik dan benar.
Apabila tingkat perkembangan bicara berada dibawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umumnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan di dalam kosa kata (bahasa) anak tersebut pada saat bersama teman sebayanya bercakap-cakap/berbicara menggunakan kata-kata terus dianggap muda diajak bermain dengan kata-kata.
Keterlambatan berbicara tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca pada awal anak masuk sekolah. Banyak penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya adalah rendahnya tingkat kecerdasan yang membuat anak tidak mungkin belajar berbicara sama baiknya seperti teman-teman sebayanya, yang kecerdasannya normal atau tinggi kurang motivasi karena anak mengetahui bahwa mereka dapat berkomunikasi secara memadai dengan bentuk prabicara dorongan orang tua/orang dewasa, terbatasnya kesempatan praktek berbicara karena ketatnya batasan tentang seberapa banyak mereka diperbolehkan berbicara dirumah.
Salah satu penyebab tidak diragukan lagi paling umum dan paling serius adalah ketidakmampuan mendorong/memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi) didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa kata yang baik dan benar.
Kekurangan dorongan tersebut merupakan penyebab serius keterlambatan berbicara anak terlihat dari fakta bahwa apabila orang tua tidak hanya berbicara kepada anak mereka tetapi juga menggunakan kosa kata yang lebih luas dan bervariasi, adapun kemampuan anak didalam berbicara yang berkembang sangat pesat dan cepat yaitu contohnya : anak-anak dari golongan yang lebih atau menengah yang orang tuanya ingin sekali menyuruh mereka (anak) belajar berbicara lebih awal (cepat) dan lebih baik. Sangat kurang kemungkinannya mengalami keterlambatan berbicara pada anak.
Sedangkan anak yang berasal dari golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak yaitu :
1. Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata
2. Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara
3. Sering kali berbicara yang tidak teratur
4. Tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.
D. Kesalahan yang umum didalam pengucapan/bahasa (berbicara) pada anak yaitu :
1. Menghilangkan satu suku kata/lebih biasanya terletak ditengah-tengah kata contohnya : “buttfly” padahal “butterfly”.
2. Mengganti huruf/suku kata seperti “tolly” padahal “Dolly”, “handakerchief” padahal “handkerchief”.
3. Menghilangkan huruf mati yang sulit untuk diucapkan oleh anak contohnya : z,w,s,d, dan g.
4. Huruf-huruf hidup khususnya O yang paling sulit dikatakan anak (diucapkan)
5. Singkatan gabungan huruf mati yang sulit diucapkan oleh anak contohnya : “st, sk, dr, fl, str”.
Sedangkan anak yang berasal dari golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak yaitu :
1. Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata
2. Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara
3. Sering kali berbicara yang tidak teratur
4. Tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru.
D. Kesalahan yang umum didalam pengucapan/bahasa (berbicara) pada anak yaitu :
1. Menghilangkan satu suku kata/lebih biasanya terletak ditengah-tengah kata contohnya : “buttfly” padahal “butterfly”.
2. Mengganti huruf/suku kata seperti “tolly” padahal “Dolly”, “handakerchief” padahal “handkerchief”.
3. Menghilangkan huruf mati yang sulit untuk diucapkan oleh anak contohnya : z,w,s,d, dan g.
4. Huruf-huruf hidup khususnya O yang paling sulit dikatakan anak (diucapkan)
5. Singkatan gabungan huruf mati yang sulit diucapkan oleh anak contohnya : “st, sk, dr, fl, str”.
E. Bicara yang tidak disetujui anak secara sosial
Anak-anak yang pembicarannya tidak sesuai dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atau jelek. Pengaruhnya terhadap penyesuaian sosial dan pribadi mungkin merusak, lebih lanjut, jika percakapan dilakukan dengan cara yang tidak diterima secara sosial menjadi kebiasaan, maka hal itu akan terjadi hambatan-hambatan yang serius yang semakin berat setiap tahun. Adapun survey mengenai sebagian dari jangkauan pengaruh yang jauh dari bicara anak yang tidak diterima secara sosial menyoroti arti pentingnya sebagai berikut yaitu :
1. Anak yang berbicara paling banyak mengenai dirinya sendiri berarti lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Dengan demikian bicara egosentrik bukanlah pola perilaku yang terpisah melainkan, hal itu merupakan sindrom egosentrisme, sebaiknya hanya karena anak berbicara mengenai orang dan hal-hal lain tidak lantas berarti bahwa mereka akan membicarakan dengan caranya sendiri dan dapat menimbulkan penyesuaian sosial yang baik, contohnya : anak suka membual “bohong”.
Bualan juga mempengaruhi penyesuaian pribadi anak, pada waktu kemampuan penalaran mereka meningkat, anak tersebut menyadari adanya jurang pemisah antara apa yang mereka katakana tentang dirinya sendiri dan siapa mereka sesungguhnya. Untuk memperkecil ketidakpuasan diri dan perasaan anak tersebut mencari penyebab/kesalahan-kesalahan.
2. Kritik dalam bentuk suatu komentar yang merendahkan dan meninggikan ego anak tersebut, tetapi hal tersebut berarti merendahkan ego yang dikritik, menyinggung perasaan orang dan memutuskan persahabatan. Dalam keluarga kritik yaitu salah satu penyebab memburuknya hubungan keluarga pada waktu anak bertambah besar. Orang tua dan saudara yang lebih tua memandang kritik (komentar) kurang diterima oleh orang tua malah dianggap kurang ajar dan yang terjadi malahan pertengkaran yang membuat hubungan antara ortu dengan anak memburuk.
3. Sikap yang terlalu sinis/suka berkelahi merugikan bagi anak maupun bagi mereka yang dituju oleh sikap seperti itu anak tidak hanya menciptakan kebiasaan bicara yang akan menimbulkan penolakan sosial yang disertai dh kerusakan psikologis, tetapi juga menimbulkan konsep keangkuhan yang menyimpang pada/tentang suatu yang tidak baik dilakukan terhadap orang lain, anak yang merasa terpukul karena komentar tersebut bertanya-tanya apakah mereka mengganggu/tidak mampu orang tersebut.
4. Anak dapat terpukul secara permanen oleh kritik yang dilontarkan anak berulang-ulang kali, sebagai contoh “kompleks rasa rendah hati/diri anak” sebagian besar disebabkan oleh kritik dan komentar yang dilontarkan terhadap anak.
Anak baik laki-laki maupun perempuan dan teman sekelasnya, semakin penting orang yang mengkritik anak, semakin besar pengaruh kritiknya.
Anak-anak yang pembicarannya tidak sesuai dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atau jelek. Pengaruhnya terhadap penyesuaian sosial dan pribadi mungkin merusak, lebih lanjut, jika percakapan dilakukan dengan cara yang tidak diterima secara sosial menjadi kebiasaan, maka hal itu akan terjadi hambatan-hambatan yang serius yang semakin berat setiap tahun. Adapun survey mengenai sebagian dari jangkauan pengaruh yang jauh dari bicara anak yang tidak diterima secara sosial menyoroti arti pentingnya sebagai berikut yaitu :
1. Anak yang berbicara paling banyak mengenai dirinya sendiri berarti lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Dengan demikian bicara egosentrik bukanlah pola perilaku yang terpisah melainkan, hal itu merupakan sindrom egosentrisme, sebaiknya hanya karena anak berbicara mengenai orang dan hal-hal lain tidak lantas berarti bahwa mereka akan membicarakan dengan caranya sendiri dan dapat menimbulkan penyesuaian sosial yang baik, contohnya : anak suka membual “bohong”.
Bualan juga mempengaruhi penyesuaian pribadi anak, pada waktu kemampuan penalaran mereka meningkat, anak tersebut menyadari adanya jurang pemisah antara apa yang mereka katakana tentang dirinya sendiri dan siapa mereka sesungguhnya. Untuk memperkecil ketidakpuasan diri dan perasaan anak tersebut mencari penyebab/kesalahan-kesalahan.
2. Kritik dalam bentuk suatu komentar yang merendahkan dan meninggikan ego anak tersebut, tetapi hal tersebut berarti merendahkan ego yang dikritik, menyinggung perasaan orang dan memutuskan persahabatan. Dalam keluarga kritik yaitu salah satu penyebab memburuknya hubungan keluarga pada waktu anak bertambah besar. Orang tua dan saudara yang lebih tua memandang kritik (komentar) kurang diterima oleh orang tua malah dianggap kurang ajar dan yang terjadi malahan pertengkaran yang membuat hubungan antara ortu dengan anak memburuk.
3. Sikap yang terlalu sinis/suka berkelahi merugikan bagi anak maupun bagi mereka yang dituju oleh sikap seperti itu anak tidak hanya menciptakan kebiasaan bicara yang akan menimbulkan penolakan sosial yang disertai dh kerusakan psikologis, tetapi juga menimbulkan konsep keangkuhan yang menyimpang pada/tentang suatu yang tidak baik dilakukan terhadap orang lain, anak yang merasa terpukul karena komentar tersebut bertanya-tanya apakah mereka mengganggu/tidak mampu orang tersebut.
4. Anak dapat terpukul secara permanen oleh kritik yang dilontarkan anak berulang-ulang kali, sebagai contoh “kompleks rasa rendah hati/diri anak” sebagian besar disebabkan oleh kritik dan komentar yang dilontarkan terhadap anak.
Anak baik laki-laki maupun perempuan dan teman sekelasnya, semakin penting orang yang mengkritik anak, semakin besar pengaruh kritiknya.
Ada beberapa anak bicaranya tidak sebanyak yang diinginkan karena selalu dicuekkan (cemooh) oleh teman-teman dan orang dewasa yang berhubungan dengan ucapan-ucapan yang lucu, karena anak tersebut berbicara dengan menggunakan 2 bahasa/karena isi pembicarannya bersifat tidak sosial. Sehingga cuekkan, kalaupun anak yang lain menemukkan bahwa ia mencoba menguasai pembicaraan maka hal ini akan menyebabkan suatu penolakan yang sosial, sehingga anak mengekang keinginannya untuk berbicara.
F. Faktor-faktor yang mempengaruhi anak berbicara
Awal masa kanak-kanak terkena sebagai masa tukang ngobrol, karena sering kali anak dapat berbicara dengan mudah tidak terputus-putus bicaranya. Adapun faktor-faktor yang terpenting didalam anak banyak bicara yaitu :
F. Faktor-faktor yang mempengaruhi anak berbicara
Awal masa kanak-kanak terkena sebagai masa tukang ngobrol, karena sering kali anak dapat berbicara dengan mudah tidak terputus-putus bicaranya. Adapun faktor-faktor yang terpenting didalam anak banyak bicara yaitu :
1. Inteligensi
Yaitu semakin cerdas (pintar) anak, semakin cepat anak menguasai keterampilan berbicara.
2. Jenis disiplin
Yaitu anak-anak yang cenderung dibesarkan dengan cara disiplin lebih banyak bicaranya ketimbang pada suatu kekerasan.
3. Posisi urutan
Yaitu anak sulung cenderung/didorong ortu untuk banyak berbicara daripada adiknya.
4. Besarnya keluarga
5. Status sosial ekonomi
6. Status ras
7. Berbahasa dua
8. Penggolongan peran seks
Yaitu semakin cerdas (pintar) anak, semakin cepat anak menguasai keterampilan berbicara.
2. Jenis disiplin
Yaitu anak-anak yang cenderung dibesarkan dengan cara disiplin lebih banyak bicaranya ketimbang pada suatu kekerasan.
3. Posisi urutan
Yaitu anak sulung cenderung/didorong ortu untuk banyak berbicara daripada adiknya.
4. Besarnya keluarga
5. Status sosial ekonomi
6. Status ras
7. Berbahasa dua
8. Penggolongan peran seks
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Perkembangan bicara anak tergantung pada tumbuh kembang ucapan (pelafasan) bicara anak tersebut. Didalam pembelajaran bicara pada anak usia dini orang tua sangat berperan penting, karena tanpa bantuan dari orang tua/dewasa anak tidak akan bisa berbicara/celoteh (ocehan).
Adapun maksud dari tujuan perkembangan bicara anak untuk melatih/mengucapkan kata-kata/kosa kata, contohnya “mam” maksud disini anak tersebut bilang “makan”. Karena adanya dampak keterlambatan bicara/gangguan bicara anak terpengaruh dari lingkungan tempat tinggal anak tersebut dan kurangnya pola asuh dari orang tua untuk mempelajari/mengajari anak untuk berbicara, jadinya anak lamban untuk berbicara (ngeloceh/celoteh) dan terpengaruh dari sosial yang anak tidak sukai oleh anak.
Perkembangan bicara anak tergantung pada tumbuh kembang ucapan (pelafasan) bicara anak tersebut. Didalam pembelajaran bicara pada anak usia dini orang tua sangat berperan penting, karena tanpa bantuan dari orang tua/dewasa anak tidak akan bisa berbicara/celoteh (ocehan).
Adapun maksud dari tujuan perkembangan bicara anak untuk melatih/mengucapkan kata-kata/kosa kata, contohnya “mam” maksud disini anak tersebut bilang “makan”. Karena adanya dampak keterlambatan bicara/gangguan bicara anak terpengaruh dari lingkungan tempat tinggal anak tersebut dan kurangnya pola asuh dari orang tua untuk mempelajari/mengajari anak untuk berbicara, jadinya anak lamban untuk berbicara (ngeloceh/celoteh) dan terpengaruh dari sosial yang anak tidak sukai oleh anak.
III.2 Saran
Bagi seorang guru/orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak usia dini didalam berbicara dengan baik, karena berbicara yang baik untuk diajari kepada anak sangatlah susah didalam menyebutkan kosa kata/pengucapan dengan sempurna kepada anak didalam perkembangan bicara.
Bagi seorang guru/orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak usia dini didalam berbicara dengan baik, karena berbicara yang baik untuk diajari kepada anak sangatlah susah didalam menyebutkan kosa kata/pengucapan dengan sempurna kepada anak didalam perkembangan bicara.
DAFTAR PUSTAKA
Perkembangan Anak, Elizabet B. Hurlock
Perkembangan Anak, Internet
Psikologi Perkembangan, Elizabet B. Hurlock
Perkembangan Anak, Internet
Psikologi Perkembangan, Elizabet B. Hurlock
Selasa, 23 November 2010
makalah perkembangan masa anak-anak
MAKALAH SOFTSKILL
PERKEMBANGAN MASA ANAK-ANAK
UNIVERSITAS GUNADARMA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perkembangan berbeda dengan pertumbuhan tetapi saling terkait dalam
proses perkembangan. Pertumbuhan merupakan proses kuantitatif yang menunjukkan perubahan yang dapat diamati secara fisik. Pertumbuhan dapat diamati melalui penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan lingkar kepala anak. Misalnya seorang anak kecil menjadi tinggi dan besar. Sedangkan perkembangan merupakan proses kualitatif yang menunjukkan bertambahnya kemampuan (ketrampilan) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang beraturan dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Perkembangan berkaitan dengan aspek kemampuan motor, intelektual, sosial, emosional, dan bahasa. Misalnya anak menjadi lebih cerdas atau lebih fasih berbicara.
Perkembangan kejiwaan pada masa anak-anak, terkadang disebut dengan masa anak kecil atau atau juga masa menjelang sekolah, sebab masa ini saat-saat anak senang mempersiapkan diri untuk bersekolah. Demikian pula masa ini ada yang menyebut dengan masa estetis, dikarenakan anak mulai mengenal dunia sekitarnyaterasa serba indah.
I.2 Maksud dan Tujuan
Di dalam penulisan makalah ini ada beberapa tujuan yang kami jabarkan, diantaranya adalah :
1. Sebagai syarat untuk memenuhi tugas Psikologi dan Tekhnologi Internet
2. Dari hasil di atas, kita jadi lebih memahami mengenai perkembangan masa anak-anak pra sekolah
3. Untuk membantu mahasiswa lainnya lebih memahami mengenai perkembangan masa anak-anak pra sekolah
I.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data, kami menggunakan metode pengumpulan data secara sekunder, yaitu pengambilan data secara tidak langsung melalui informasi yang sudah ada seperti internet.
BAB II
POKOK PERMASALAHAN
1. Apa sajakah ciri-ciri masa awal anak-anak
2. Perkembangan kognitif masa anak-anak
3. Perkembangan fisik masa anak-anak
BAB III
ISI
III.1 Ciri-Ciri Masa Awal anak-anak
Dalam setiap tahap perkembangan ada ciri-ciri khusus yang ada pada setiap tahap perkembangan, begitu juga pada saat masa kanak-kanak awal ditandai dengan ciri-ciri tertentu, menurut Hurlock (1980:108) ciri itu tercermin dalam sebutan yang biasa diberikan oleh para orang tua, pendidik, dan ahli psikologi:
a) Sebutan Yang Digunakan Orang Tua. Ada beberapa sebutan untuk menggambarkan masa kanak-kanan, sebutan tersbeut berkisar tentang perilaku dan aktivitas yang dilakukan anak-anak, pada sebagian besar orang tua menganggap awal masa pada kanak-kanak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit. Masa kanak-kanak merupakan masa-masa yang sulit bagi orang tua karena pada masa kanak-kanak awal ialah karena anak-anak sedang mengembangkan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umumnya kurang berhasil. Selain itu pada sebagian orang tua juga menganggap usia awal kanak-kanak sebagai usia mainan karena anak mudah menghabiskan sebagian besar waktu juga bermain dengan mainannya.
b) Sebutan Yang digunakan Para Pendidik. Sedangkan para pendidik menyebut usia awal kanak-kanak sebagai usia prasekolah, usia pra sekolah adalah usia yang belum memasuki usia sekolah atau masih berada di taman kanak-kanak, kelompok bermain, atau penitipan anak-anak.
c) Sebutan Yang Digunakan Ahli Psikologi. Para ahli psikologi menggunakan sejumlah sebutan yang berbeda untuk menguraikan ciri-ciri yang menonjol dari perkembangan psikologis anak selama tahun awal masa kanak-kanak.
Salah satu sebutan yang banyak digunakan adalah usia kelompok, masa di mana anak-anak mempelajari dasar-dasar prilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu. Karena perkembangan utama yang terjadi selama awal masa kanak-kanak berkisar diseputar penguasaan dan pengendalian lingkungan, banyak ahli psikologi yang melabelkan awal masa kanak-kanak sebagai usia menjelajah, sebuah label yang menunjukkan anak ingin mngetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya, ini termasuk manusia dan benda mati. Salah satu cara yang umum dalam menjelajah lingkungan adalah dengan bertanya, jadi periode ini adalah meniru pembicaraan dan perilaku orang lain, oleh karena itu periode ini juga disebut usia meniru. Namun kecenderungan ini nampak kuat tetapi anak lebih menunjukkan kreativitas dalam bermain selama masa kanak-kanak dibandingkan masa-masa lain dalam kehidupannya, dengan alasan ini para ahli psikologi juga menamakan periode ini sebagai usia kreatif.
Menurut Yusuf (2002) pada masa usia prasekolah ini dapat diperinci menjadi dua masa, yaitu masa vital dan masa estetik; a) Masa Vital. Pada masa ini, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar, Freud menamakan tahun pertama dalam kehidupan individu itu sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan anak memasukkan apa saja yang dijumpai ke dalam mulutnya itu, tidaklah karena mulut sumber kenikmatan utama, tetapi karena waktu itu mulut merupakan alat untuk melakukan eksplorasi (penelitian) dan belajar. b) Masa Estetik. Pada masa ini dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Kata estetik di sini dalam arti bahwa pada masa ini, perkembangan anak yang terutama adalah fungsi panca inderanya. Kegiatan eksploitasi dan belajar anak terutama menggunakan panca inderanya, pada masa ini, indera masih peka, karena itu Montessori menciptakan bermacam-macam alat permainan untuk melatih panca inderanya.
III.2 Perkembangan Kognitif masa anak-anak
Dunia kognitif masa anak anak prasekolah adalah kreatif, bebas, dan penuh imajinasi. Di dalam seni mereka, matahari kadang kadang berwarna hijau, dan langit berwarna kuning. Mobil mengambang di awan, dan manusia seperti kecebong. Imajinasi anak anak prasekolah terus bekerja, dan daya serap mental mereka tentang dunia semakin meningkat. Bahasan tentang perkembangan kognitif masa awal anak anak kali ini berfokus pada tahap pemikiran praoperasional piaget.
Pada tahap masa awal anak, seorang anak telah memasuki perkembangan kognitif tahap praoperasional. Menurut piaget, tahap ini terjadi pada usia anak mencapai 2 hingga 7 tahun. Pada tahap inilah konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta keyakinan pada hal hal yang magis terbentuk.
Pemikiran praoperasional adalah awal kemampuan untuk merekonstruksi pada tingkat pemikiran apakah seorang anak dalam melakukan sesuatu. Pemikiran praoperasional juga mencakup peralihan penggunaan simbol dari yang primitif kepada yang lebih canggih. Pemikiran praoperasional dapat dibagi ke dalam dua subtahap: subtahap fungsi simbolis dan subtahap pemikiran intuitif.
Subtahap Fungsi Simbolis
Subtahap Fungsi Simbolis (symbolic function subtange) adalah subtahap pertama pemikiran praoperasional yang terjadi sekitar usia 2 hingga 4 tahun. Pada subtahap ini, anak anak mengembangkan kemampuan untuk membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada. Kemampuan untuk berpikir simbolis semacam ini disebut dengan fungsi simbolis dan kemampuan itu mengembangkan secara cepat dunia mental anak. Hal yang paling bisa diamati adalah anak kecil menggunakan desain corat coret untuk menggambarkan manusia, rumah, mobil, awan, dan lain lain.
Anak anak kecil tidak terlalu peduli dengan realitas, gambar gambar yang mereka buat penuh daya cipta. Matahari biru, langit kuning, dan mobil mengambang diawan, semua itu adalah dunia simbolis dan imajinatif mereka.
Egosentrisme (egocentrism) adalah suatu ciri pemikiran praoperasional yang menonjol. Egosentrisme adalah suatu ketidakmampuan untuk membedakan perspektif diri dengan perspektif oranglain. Anak belum memiliki kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan, dilihat dan dipikirkan oleh oranglain, ia lebih cenderung untuk melihat sesuatu dari sudut padang dirinya sendiri.
Animisme (animism) adalah bentuk lain pemikiran praoperasional. Animisme adalah keyakinan bahwa objek yang tidak bergerak memiliki suatu kehidupan dan dapat bertindak. Anak kecil dapat menunjukkan pemikiran animisme dengan mengatakan seperti: “Ma, pohon itu mendorong daunnya biar bergerak gerak agar daunya jatuh”. Anak kecil menggunakan animisme karena sulit membedakan kejadian kejadian yang tepat bagi penggunaan perspektif manusia dan buka manusia.
Namun sebagian developmentalis percaya bahwa animisme merupakan pengetahuan dan pemahaman yang kurang lengkap, bukan suatu pemahaman menetap tentang dunia. Perlu untuk menjelaskan lebih lanjut agar terbentuk pemahaman yang lebih lengkap tentang dunia.
Subtahap Pemikiran Intuitif
Subtahap pemikiran intuitif (intuitive thought substage) adalah subtahap kedua pemikiran praoperasional yang terjadi sekira usia 4 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, anak anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban atas semua bentuk pertanyaan.
Piaget menyebut pada periode waktu ini anak anak tampaknya begitu yakin tantang pengetahuan dan pemahaman mereka, tetapi belum begitu sadar bagaimana mereka tahu apa yang mereka ketahui itu. Lebih jelasnya mereka mengatakan mengetahui sesuatu, tetapi mengetahuinya dengan cara tidak menggunakan pemikiran rasional.
Centration terbukti paling jelas terjadi pada awal anak anak yang kekurangan pemahaman conservation. Conservation adalah suatu keyakinan akan keabadian atribut objek atau situasi tertentu terlepas dari perubahan yang bersifat dangkal. Seorang dewasa akan dapat membedakan dengan jelas jumlah suatu cairan (air) yang dipindah dari sebuah piring kedalam gelas dengan mengatakan jumlah cairan tetap sama. Tetapi tidak dengan anak kecil, sebaliknya mereka tertipu oleh tinggi cairan akibat tinggi gelas.
Karakteristik lain anak anak praperasional adalah mereka menanyakan serentetan pertanyaan. Pertanyaan pertanyaan anak yang paling awal tampak kira kira pada usia 3 tahun, dan pada usia 5 tahun mereka membuat pusing orang orang dewasa disekitarnya karena lelah menjawab pertanyaan pertanyaan ”mengapa” mereka.
Pertanyaan pertanyaan meraka menunjukkan akan perkembangan mental dan mencerminkan rasa ingin tahu intelektual mereka.Ppertanyaan pertanyaan ini menandai munculnya minat anak anak akan penalaran dan penggambaran kenapa sesuatu seperti itu. Seperti mengapa matahari bersinar, mengapa adik ada diperut ibu, mengapa ada orang di televisi, dan lain lain.
Dengan mengetahui dan membahas sejumlah karakteristik perkembangan kognitif anak pada tahap pemikiran praoperasional, diharapkan bisa membantu anda mengingat karakteristik ini untuk memahami bagaimana taraf berpikir anak pada usia awal anak anak.
III.3 Perkembangan Fisik (Motorik)
Perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.
Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
* Perkembangan motorik kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan oleh anak untuk melakukan gerakan tubuh.
Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.
* Perkembangan motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu.
Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.
BAB IV
PENUTUP
Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Masa kanak-kanak merupakan masa-masa yang sulit bagi orang tua karena pada masa kanak-kanak awal ialah karena anak-anak sedang mengembangkan kepribadian yang unik Perubahan yang terjadi pada diri anak tersebut meliputi beberapa aspek yaitu perubahan pada aspek kognitif dan fisik. Bahasan tentang perkembangan kognitif masa awal anak anak kali ini berfokus pada tahap pemikiran praoperasional piaget. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.
DAFTAR PUSTAKA
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/19/ciri-ciri-masa-awal-kanak-kanak/. Diakses tanggal 22 November 2010.
http://www.psikologizone.com/perkembangan-kognitif-masa-awal-anak-anak. Diakses tanggal 22 November 2010.
http://www.anneahira.com/kesehatan-anak/index.htm. Diakses tanggal 22 November 2010.
Rabu, 17 November 2010
God, why this feelin cant escape from my heart. Honestly, im falling in love with his family..missing them so much. hummm... So sad cos i cant meet them again yah it is for my therapy that i make for myself.
ur lil sister n ur mommy so a warm person,,
Langganan:
Postingan (Atom)

